Archive for the Leonardus Category

GEREJA ADALAH TUBUH KRISTUS

Posted in Leonardus on Mei 3, 2022 by Leonardus Ansis

A. Pendahuluan

             Ketika kami   membaca tema Gereja sebagai Tubuh  Kristus, maka tema ini langsung menarik perhatian kami. Lalu muncul berbagai  pertanyaan dalam diri kami. Apa yang dimaksud dengan Gereja sebagai Tubuh Kristus? Bagaimana pemahaman Paulus, Bapa-bapa Gereja, Pius XII dan Konsili Vatikan tentang  Gereja sebagai Tubuh Kristus?

Memang pengertian Tubuh Kristus  sudah ada dan hidup dalam Gereja, namun pengertian Tubuh Kristus mengalami berbagai perbedaan pemahaman. Nah, untuk itu kami ingin mendalami materi ini sambil menguraikan dan membaginya dalam beberapa  bagian: Pertama kami akan menguraikan secara singkat tentang perkembangan pandangan Gereja Sebagai Tubuh Mistik, kemudian pandangan Paulus dalam  suratnya kepada jemaat di Roma dan I Korintus, serta Efesus dan Kolose; Pandangan Bapa-bapa Gereja; Pandangan Pius XII dan Konsili Vatikan kedua.

B. Perkembangan Pandangan

            Paulus sudah berbicara tentang  tubuh Kristus. Tetapi kata “Tubuh Mistik” baru dipakai dalam teologi untuk Gereja sejak kira-kira tahun 1160.[1] Sebelumnya  istilah “Tubuh Mistik” dipergunakan untuk Ekaristi.  Di situ kata mistik hampir sama  dengan “Sakramentali”. Ekaristi adalah Tubuh Kristus  dalam bentuk tanda sakramentali.

            Gereja disebut Tubuh Kristus. Sebagai Tubuh Kristus karena  Tubuh Kristus  yang hadir ke dalam Ekaristi. Oleh karena itu Gereja sendiri lama-kelamaan disebut “Tubuh Mistik”, karena dibentuk dengan sakramen Ekaristi.

            Tetapi, ketika Berengarius (998-1088) menyangkal bahwa Kristus sungguh hadir di dalam Ekaristi,  orang mulai merasa segan untuk memakai istilah “Mistik” bagi tubuh dalam sakramen Mahakudus. Dengan istilah “Tubuh Mistik”,  lalu dipergunakan untuk menunjuk Gereja; dan hubungan dengan Ekaristi semakin tidak terasa. Apalagi sejak para reformatores begitu menekankan segi rohani Gereja yang tidak dilihat, maka para teolog justru menekankan segi “kelihatan”  dari Gereja.

            Nanti pada zaman Johann Adam Monler (1796-1838) pengertian bagi sifat rohani Gereja mulai sadar lagi dan dengan demikian juga perhatian bagi Gereja sebagai Tubuh Kristus. Ia membandingkan Gereja dengan misteri penjelmaan Putera Allah dan memberikan arti yang baru kepada paham “tubuh” bagi Gereja.

C. Gereja sebagaiTubuh Kristus: Menurut Paham Paulus

C.1. Latar Belakang

            Lambang Tubuh Kristus sebenarnya cukup jelas dalam surat-surat Paulus. Namun, perlu dibedakan paham Tubuh Kristus dalam surat Paulus kepada umat di Roma dan I Kor  serta Efesus dan Kolose.  Dalam Rom dan I Kor: kesatuan antara  para anggota satu sama lain lebih ditekankan, sedangkan dalam Ef dan Kol perhatian lebih diarahkan kepada kesatuan Gereja  (=tubuh) dengan Kristus (=Kepala). Latar belakang muncul ide di atas menurut beberapa pakar diambil oleh Paulus dalam Liturgi khususnya dalam permandian dan Ekaristi.  Khususnya perjamuan suci dengan Tuhan yang mulia dipandang sebagai sumber inspirasi bagi Paulus untuk memandang Gereja sebagai Tubuh Kristus. “Kita menjadi satu tubuh karena kita mengambil bagian dalam satu roti itu” (I Kor 10:17)

C.2. Rom dan I Kor

Gereja Sebagai Tubuh Kristus merupakan sebutan yang lebih khas kristiani. Paulus menjelaskan maksud kiasan itu:

“sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak- anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh-demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak  maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (Ikor 12:12-13).

Dengan gambaran “tubuh” , Paulus mau mengungkapkan kesatuan jemaat, kendatipun ada aneka karunia dan pelayanan (ay.7). Gereja itu satu. Ia menegaskan, bahwa “mata tidak dapat berkata kepada tangan: Aku tidak membutuhkan engkau. Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: Aku tidak dapat membutuhkan engkau” (ay 21). Sebab”tubuh tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota” (ay 14). Maka ditarik kesimpulan:”Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya” (ay 27). Hal yang sama dikatakan dalam surat kepada umat  di Roma (12:4-5).

            Dalam Rom 12 dan 1Kor  dikemukakan tentang kesatuan  para anggota satu sama lain. Tetapi  tekanan yang diberikan di sini bukan pada fungsi masing-masing anggota, melainkan pada kesatuan kendati segala perbedaan. Dan kesatuan ini  adalah kesatuan “dalam Kristus”. Kita yang banyak merupakan satu tubuh dalam Kristus (Rom 12:5); “Sebagaimana tubuh yang satu  beranggotakan banyak, dan segala anggota betapa pun banyaknya merupakan satu Tubuh, demikian Kristus” (I Kor 12:12). Dalam kalimat terakhir  itu sudah tidak dikatakan bahwa kita merupakan satu Tubuh “di dalam Kristus”, tetapi yang dimaksudkan adalah tepat sama,”Kita semua dipermandikan oleh Roh yang satu, menjadi satu tubuh (ay. 13&14). Kesatuan dalam Kristus dikerjakan oleh Roh Kudus dan khususnya melalui sakramen Permandian. Juga kalau Paulus berbicara mengenai keaneka-ragaman fungsi, yang dipentingkan adalah kesatuan. “Kamu sekalian merupakan  Tubuh Kristus dan masing-masing anggota-anggotanya. (I Kor  12:27). Oleh karena itu, Konstitusi LG berkata,”Hidup Kristus dicurahkan ke dalam orang beriman yang melalui sakramen secara rahasia tetapi riil, dipersatukan dengan Kristus”. Inti-sari hidup Gereja sebagai Tubuh Kristus   adalah kesatuan dengan Kristus. Dan kesatuan itu adalah kesatuan dalam iman dan Roh Kudus yang dinyatakan dalam Sakramen, khususnya  Permandian dan Ekaristi.

C.3. Ef dan Kol

Tetapi dalam surat kepada umat di Kolose dan Efesus gagasan ini dikembangkan lebih lanjut. Dalam Ef 1:23 dikatakan bahwa “jemaat adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (Bdk. Kol 1L18.24). di sini yang dimaksudkan bukanlah kesatuan antara para anggota jemaat, melainkan kesatuan jemaat dengan Kristus. Oleh karena itu Kristus juga disebut “kepala” Gereja (lih Ef 1:22; 4:15; 5:23).  Hal itu jelas dari Ef 4: 16).

“Kristus adalah kepala. Dari pada-Nyalah seluru tubuh-yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”

Dari satu pihak, dipertahankan gagasan Paulus mengenai kesatuan dalam jemat, yang”diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya”. Tetapi dari pihak lain, dengan jelas dikatakan bahwa jemaat itu” menerima pertumbuhannya” dari Kristus, yang adalah kepala. Di sini pun masih dipergunakan bahasa kiasan, tetapi bukan sebagai perbandingan saja. Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan Kristus. Gereja hidup dari Kristus, dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (kol 2:10).[2]

            Kalau Paulus menyebut Gereja “Tubuh Kristus” maka yang dimaksudkan  adalah Gereja sebagai suatu organisme yang hidup karena daya-kekuatan Kristus.  Ide ini dikembangkan dengan amat jelas  dalam suratnya kepada umat di Efesus dan Kolose. Di situ dengan lebih jelas Gereja di sebut Tubuh Kristus (Ef 1:23; 4:12; 5:30; Kol 1:18).  Kekhususan pandangan itu ialah bahwa Kristus  sekarang disebut Kepala Gereja (Lih. Ef 1:22-23; 4: 15-16; 5:23) hal itu berarti:

  •  Kristus  dan Gereja-Nya tidak dapat dipisahkan lagi (Ef  1:22-23).
  •  Gereja harus  tunduk pada Kristus (EF. 5:23-24).
  •  Gereja hidup dari Kristus ( Ef 4: 15-16)
  •  Gereja dicintai dipelihara oleh Kristus (Ef 5: 29-30)
  •  Gereja diungkapkan dalam kesatuan tubuh (Kol 3:1; Ef  3, 6: 4, 3-4).

Dengan demikian, gambaran Ef-Kol agak berbeda dengan Rom-I Kor. Dahulu Gereja disebut  “tubuh” karena kesatuan para anggota di dalam Kristus; sekarang  yang menjadi pokok adalah kesatuan dengan Kritus itu yang menjadi kepala “tubuh yaitu Gereja” (Kol 1:18).

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas maka menjadi pertanyaan untuk kita mengapa Paulus menyebut Gereja sebagai Tubuh Kristus? Agaknya ada tiga hal  yang memberikan sumbangan:[3]

  • Tubuh merupakan hasil karya penebusan Kristus (Ef 2:15-16) dan karenanya menjadi  miliknya, menjadi tubuh kepunyaan Kristus.
  • Tubuh itu dijiwai oleh Roh Kudus, tepatnya Roh Kristus, Roh yang dianugerahkan oleh-Nya.
  • Dan khususnya dua sakramen: permandian dan Ekaristi yang mempersatukan  oleh sebab menghubungkan orang dengan Kristus.

Sebab dalam permandian  semua mengenakan Kristus (Gal 3:27).  Dengan sakramen

permandian kita menjadi serupa dengan Kristus, sebab di dalam satu Roh kita semua dipermandikan menjadi satu tubuh (1Kor 12:13). Dengan upacara suci itu dilambangkan dan dilaksanakan kesatuan kita dengan wafat dan kebangkitan Kristus, sebab kita turut dimakamkan  bersama Dia dengan permandian ke dalam wafat-Nya. Dan kalau telah dijadikan satu dengan kesamaan wafat-Nya, niscaya kita akan bersatu  dengan kebangkitan-Nya juga (I Kor 6:45).[4]

            Sedangkan melalui Ekaristi kita semua mengambil bagian dalam Tubuh dan Darah Kristus, kita diangkat bersatu dengan Dia dan bersatu antara kita sendiri. sebab roti adalah satu, maka kita yang banyak menjadi satu tubuh, sebab kita sekalian mengambil bagian dalam roti  yang satu itu (I Kor 10:17). Dengan demikian kita semua dijadikan anggota Tubuh itu.[5] Sebab  Tubuh Yesus Kristus sendirilah disajikan sebagai makanan buat hidup kekal bagi semua orang yang ikut serta, dan darah Kristuslah yang mengalir ke dalam seluruh tubuh Gereja.

            Orang beriman yang  menjawab Sabda Allah dan menjadi anggota tubuh Kristus, dipersatukan secara erat dengan Kristus,”Dalam tubuh itu hidup Kristus dicurahkan ke dalam umat beriman. Melalui Sakramen-Sakramen mereka itu secara rahasia namun nyata dipersatukan dengan Kristus yang telah menderita dan dimuliakan” (LG 7). Itu berlaku terutama untuk Pembaptisan, yang olehnya kita dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus (dk Rom 6:4-5; 1Kor 12:13), dan untuk Ekaristi yang olehnya”Kita secara nyata ikut serta dalam Tubuh Tuhan; maka kita diangkat untuk bersatu dengan Dia dan bersatu antara kita.” (LG 7).

D. Bapa-Bapa Gereja

            Pada bagian kami juga mengemukakan pandangan dari beberapa Bapa-bapa Gereja tentang Gereja sebagai Tubuh Kristus:

  • Ignatius dari Antiokhia mengatakan,”Dan masing-masing menjadi satu tubuh `dalam harmoni dari persekutuan, menghidupi dalam persekutuan dari Allah. Bermadah dalam satu seruan kepada Kristus Yesus, sehingga ia mengenali dan  mendengar kamu. Itu kabar yang baik, yang untuknya kamu menjadi anggota Tubuh Kristus, dalam kesatuan yang tak terpisahkan untuk selalu menjadi bagian dari Allah.
  • Agustinus: mengemukakan  gambaran tentang Tubuh Kristus  dengan tekanan khusus   pada persekutuan mistik dan  tak kelihatan, yang mengikat semua orang yang dihidupi oleh rahmat Kristus.  Agustinus berbicara tentang Gereja yang tidak hanya meliputi dunia tetapi juga merangkum surga: malaikat-malaikat dan para kudus adalah anggota-anggota gereja  yang berada di surga, Kristus sebagai kepala bersama dengan semua anggota-Nya merupaka satu keutuhan . Pada dasarnya tubuh itu tidak nampak karena ia meliputi juga malaikat-malaikat  dan jiwa-jiwa yang tidak berbadan. Lebih lagi, ia bukan masyarakat yang terbatas, karena ia meliputi semua manusia yang dijiwai Roh Allah.[6]
  • Santo Agustinus juga mengatakan,“Seluruh Kristus, Kepala dan Tubuh, satu dari yang banyak…Apakah Kepala yang berbicara atau Tubuh yang berbicara, selalu Kristuslah yang berbicara:Ia berbicara baik dalam peranan-Nya sebagai Kepala, maupun dalam peranan Tubuh. Apa yang tertulis? Keduanya menjadi satu daging. Itu adalah rahasia yang sangat dalam; saya mengenakannya kepada Kristus dan Gereja’ (Ef 5:31-32). Dan Tuhan sendiri berkata dalam Injil: “Jadi mereka bukan lagi dua melainkan satu daging’(mat 19:6). Seperti kamu tahu, ada dua pribadi tetapi di pihak lain hanya satu oleh hubungan perkawinan…sebagai kepala Ia menamakan diri mempelai pria, sebagai tubuh mempelai wanita” (Agustinus, psal 74,4).

E. Gereja sebagai Tubuh Kristus:

      Menurut  Paus Pius XII[7]

            Dalam tahun 1934 Pius XII mengeluarkan ensikliknya yang terkenal, yang di dalamnya ia mendefenisikan Gereja  Yesus Kristus  sebagai Tubuh Mistik Kristus, dan menetapkan bahwa Tubuh mistik itu identik dengan Gereja Katolik Roma[8]. Namun, yang menjadi pertanyaan, mengapa Pius XII  menyebut Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus:

  1. Sebab Yesus adalah pendirinya.

      Yesus mulai mendirikan Gereja dan membentuk kenisah  yang ajaib ketika Ia menjelajahi tanah Palestina seraya mewartakan Injil di mana-mana. Pekerjaan mendirikan Gereja diselesaikan Yesus di kayu salib, sebagaimana sudah diajarkan oleh bapa-bapa Gereja. Di salib, Gereja dilahirkan dari lambung Juruselamat, sebagai Hawa Baru, bunda segala orang yang hidup. Sebab dalam  Darah Tersuci Tuhan Yesus, Perjanjian Lama diakhiri dan Perjanjian Baru didirikan. Tandanya ialah terkoyaknya tirai dari atas sampai ke bawah ketika Yesus wafat. Waktu itu Yesus sudah memperoleh hak dan kuasa atas segala bangsa dan mulai melaksanakan tugas-Nya sebagai kepala Gereja. Di sana Yesus memperoleh rahmat dan hidup ilahi untuk sekalian orang.

Akhirnya, Gereja yang telah didirikan diperkenalkan secara mulia oleh Yesus sendiri dengan mengutus Roh Pentakosta. Karena sebagaimana Yesus sendiri diperkenalkan sebagai Mesias oleh turunnya Roh Kudus dalam rupa seekor burung merpati, demikian pula Gereja-Nya diperkenalkan kepada dunia oleh turun-Nya Roh Kudus ke atas para rasul dalam lidah-lidah api.

Jadi, wajar kalau Gereja di sebut sebagai Tubuh Kristus karena persekutuan itu dibentuk oleh Yesus dan kepada-Nya diberikan pucuk pimpinan untuk menggembalakan, mengajar, dan menguduskannya.

  • Sebab Yesus adalah Penjaganya.

Yesus senantiasa menjaga Gereja yang didirikan-Nya. Pujangga Gereja, Santo Belarminus manyatakan bahwa Kristus menjaga Gereja dan hidup di dalam-Nya sedemikian erat, seingga Gereja seolah-olah adalah Kristus. Demikian pula Santo Paulus sering menamai Gereja “Kristus”. Yesus hidup dalam Gereja dan menjaganya sedemikian rupa, sehingga St. Agustrinus pernah berkata, “Kristus mengkhotbahkan Kristus”. Yesus menjaga Gereja kerena kepada Gereja itu Ia senantisa dan tetap mempercayakan perutusanNya. “… seperti Bapa mengutus Aku, demikian Aku mengutus kamu… siapa yang mendengarkan kamu, mendengarkan Daku.” Yesus menjaga Gereja karena Ia telah mencurahkan kehidupan-Nya seperti cabang-cabang yang hidup  dan bertumbuh pada pokok anggur (bdk. Yoh 6:57)”Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian barang siapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Barang siapa makan roti ini, akan hidup selama-lamanya.”

Yesus memberkati Gereja-Nya dengan Roh Kudus yang telah dicurahkan-Nya sebagai sumber segala rahmat dan kehidupan ilahi. “Roh Kristus” atau Roh Yesus adalah gaya hidup, yang menyebabkan Tubuh Mistik tetap hidup dan daripada roh ini anggota-anggota tubuh ini menerima sesuai “ukuran yang telah disediakan oleh Yesus” (bdk. Ef 1:8;4:7). Dan setelah Yesus masuk dalam kemuliaan Bapa, Ia mengutus Roh Bapa dan Roh-Nya secara mulia ke atas Gereja-Nya, terus-menerus sehingga umat-Nya makin menyerupai Juruselamat. Karena Yesus mengutus Roh Kudus maka Ia hadir dalam sekalian anggota dan membantu  masing-masing seturut tugas dan kewajibannya. Demikian Yesus sungguh penjaga Gereja. Ia mempengaruhi Gereja dari dalam dan melalui Roh Kudus-Nya, yang menguduskan secara umum dan tiap anggota masing-masing. Pengaruh itu berlangsung sedemikian rupa, sehingga seperti Santo Paulus, Gereja berkata,”Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam Aku” (Gal 2:20).

  • Sebab Yesus adalah Penyelamat.

Yesus menebus tubuh-Nya. Dalam suratnya kepada umat di Efesus, St. Paulus berkata,”…Kristus adalah kepala Jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh” (ef 5:23). Memang Yesus betul Penyelamat sekalian manusia, namun bukan semua manusia menikmati secara sama banyak keselamatan dan penebusan dari Yesus itu. Sebab itu St, Paulus berkata, “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya” (1 Tim 4:10). Lebih dari segala orang lain, Yesus dengan Darah-Nya telah membeli mereka yang adalah Tubuh-Nya. “Karena itulah jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah anak-Nya sendiri” (Kis 20: 28).

Pada bagian atas tadi, kita sudah melihat bagaimana Yesus telah mendirikan Tubuh Mistik-Nya di Kayu salib dan bagaimana Ia hidup secara istimewa dalam anggota-anggota tubuh ini, dan menentukan bagi tiap anggota ukuran rahmat-Nya. Jikalau Yesus telah turun  ke dalam dunia untuk meluputkan yang hilang, menyelamatkan kita, maka hal ini dikerjakan-Nya terutama dalam mereka yang oleh Roh penghidup-Nya telah terhubung suatu tubuh yang ajaib: tubuh-Nya. Melalui permandian kita diangkat menjadi anggota yang hidup dalam tubuh ajaib ini. Karena Yesus yang telah mendirikan, menjaga dn menghantar kepada kesempurnaan dan kebahagiaan oleh-Nya dan Roh Kudus-Nya, ketika tubuh itu hadir di hadapan Allah Tritunggal Maha Kudus di rumah Bapa.

4. sebab Yesus adalah Kepalanya

            Di samping  tiga alasan di atas: Pendiri, penjaga, penyelamat salah satu alasan yang menyebabkan kita menyebut gereja sebagai Tubuh Kristus, yakni sebab Kristus dipandang oleh Gereja sebagai kepalanya. Kalau Yesus disebut kepalanya maka jelas Gereja adalah Tubuh Kristus. Hal ini bisa ditemukan dalam Kitab Suci,”Orang yang tidak berpegang  kepada kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahi” (9 Kol 2:19). Dalam Kitab Suci, oleh Tuhan sendiri, hubungan antara Yesus dan jemaat digambarkan dengan ungkapan kepala Tubuh

            Dengan meninjau Kitab Suci dan dengan mempertimbangan ajaran Bapa-bapa gereja, maka kita akan menemukan suatu gambaran indah dan nyata tentang kemesraan/kehidupan Yesus dalam kita dan kita dalam Dia.

a. Yesus adalah kepala karena kemuliaan-Nya, tinggi-Nya

            Di antara makhluk ciptaan dan orang-orang yang tertebus, siapakah yang semulia Yesus, Putera Bapa Abadi dan serentak Putra dari Bunda yang tak bernosa, Santa Perawan Maria?

            Sungguh, seperti kepala kita yang bersinar di tubuh kita, yang menjadi perhiasaan, yang memberikan kemuliaan dan keindahan kepada tubuh, demikianlah Yesus berada di tengah umat Allah sebagai yang bernilai, yang terindah, yang termulia, dan yang menjadi kehormatan dan kemuliaan umat Allah.

b. Yesus adalah kepala karena pemerintahan-Nya

            Yesus telah mengajari Gereja dengan kata-kata yang tak akan berlalu meskipun langit dan bumi akan berlalu dan binasa. Dan untuk melanjutkan ajaran ini, maka Yesus memberikan kepada para Rasul tiga jenis kuasa, yaitu kuasa untuk mengajar, untuk memerintah dan untuk menguduskan  atas nama-Nya. Kuasa itu kemudian berpindah kepada  pengganti-pengganti para Rasul dan seterusnya sampai akhir zaman. Meskipun demikian sampai saat ini Kristus masih tetap memerintah Gereja dari surga. Kristus sang kepala tetapi memegang tampuk kepemimpinan. Katanya,”Aku akan besertamu sampai akhir zaman.” Jadi, dapat dikatakan bahwa Yesus memerintah kita baik secara tidak kelihatan maupun secara kelihatan. Atas cara yang tidak kelihatan Ia memerintah kita dalam hati kita. Dalam batin dan jiwa Kristus memimpin sekalian anggota dan seluruh Gereja sebagai satu-satunya Gembala yang baik.

            Dan atas cara yang tampak, Kristus sebagai pemimpin seluruh Gereja-Nya melalui Pengganti Petrus: Sri Paus di Roma, dan setiap bagian gereja dipimpin oleh Uskup-uskup sebagai pengganti para rasul.

c.  Yesus kepala di mana ada saling bergantungan antara Kepala dan Tubuh, antara Dia  dan Gereja.

            Bagi tubuh manusia, berlakulah perkataan Santo Paulus: Kepala tidak dapat berkata kepada kaki,”Aku tida membutuhkan engkau”. Demikian juga Yesus dengan Gereja. Yesus menegaskan,”Tanpa Aku, kamu tak dapat berbuat apa-apa.” Naskah santo Paulus sendiri menegaskan bahwa seluruh Gereja  bertumbuh dan berkembang hingga mencapai kepenuhan yang telah direncanakan Tuhan baginya  oleh pengaruh dan kekuatan yang datang dari Kepala, yaitu Kristus Yesus.  Akan tetapi sama benar juga bahwa kepala memerlukan anggota. Sebenarnya ketergantungan mutlak ini tidak perlu tetapi Tuhan telah mengatur sedemikian. Kristus memerlukan anggota supaya  dalam dan melalui mereka, Ia dapat memerintah Gereja atas cara yang nyata sesuai kodrat manusia.

d.  Persamaan juga ada antara Kepala Gereja dan Gereja, seperti seharusnya terdapat antara kepala dan Tubuh.

            Ini merupakan suatu rahasia yang ajaib.  Yesus Allah Putera sebenarnya telah menjadi manusia. Ia sungguh saudara kita dalam tubuh manusiawi yang sama, yang rapuh, yang rentan terhadap sengsara dan kematian. St. Paulus mengatakan bahwa Ia menyerupai kita dalam segala hal kecuali dalam hal dosa. Ia menyerupai kita supaya  kita dapat memperoleh partisipasi pada kehidupan-Nya yang ilahi,”Sebab samua orang  yang dipilih-Nya dari semula, mereka  juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran anak-Nya, supaya Ia anak-Nya yang sulung  di antara banyak saudara” (Rom: 8:29.

F. Konsili Vatikan II:

            Konsili berbicara panjang lebar  mengenai Tubuh Kristus. Akan tetapi ada dua kesulitan yang dihadapi yang membuat  Konsili agak hati-hati dengan istilah “Tubuh Kristus.  Di bawah ini akan diuraikan dua kesulitan:[9]

  • Paham “Tubuh mistik Kristus” sebagaimana dipakai dalam ensiklik Pius XII ‘Mystici Corporis’ (1943). Dalam Ensiklik itu dijelaskan bahwa Gereja disebut Tubuh mistik Kristus, karena dengan istilah itu “Tubuh sosial Gereja, yang kepala dan pemimpinnya adalah Kristus, dapat dibedakan dari Tubuh fisik Kristus, yang lahir dari santa Perawan Bunda Allah dan yang sekarang ada di sebelah kanan Bapa serta menyembunyikan diri di bawah selubung Ekaristi, dan juga dapat dibedakan dari Tubuh kodrati, entah berbadan fisis entah berbadan moral. Dalam berbadan moral prinsip kesatuan adalah tujuan bersama serta kerja sama dari semua bagi suatu tujuan tersebut di bawah pimpinan yang berwewenang.  Dalam tubuh mistik masih ada prinsip lain kecuali kerja sama itu, yakni Roh Kudus.  Walaupun  dengan istilah dimaksudkan Roh Kudus, namun karya Roh Kudus terutama dilihat dalam susunan Organisatoris Gereja. Gereja adalah suatu lembaga; hanya bukan lembaga moral biasa. Sebab princip kesatuannya adalah daya kekuatan Roh Kudus.

Sedangkan dalam pandangan Lumen Gentium berbeda sekali. Di sini Roh Kudus  pertama-tama adalah menghubungkan orang dengan Kristus. Hal ini berarti Gereja mendapat bentuk sosial yang nyata. Tapi itu bukan yang utama. Yang utama adalah  kesatuan dengan Kristus. Ensiklik Mystici Corporis menerangkan bahwa Gereja adalah suatu tubuh, badan, kemudian dikhususkan bahwa Tubuh itu adalah Kristus. Sedangkan jalan pikiran Lumen Gentium sebaliknya: dimulai dengan membicarakan kesatuan Gereja dengan Kristus.

  • Kesulitan kedua: dengan faham Tubuh Kristus sering membuat orang seringkali mudah untuk memberi kesan seolah-olah Gereja identik dengan Kristus. Untuk menghindari kenyataan ini, maka dalam LG no a.7 lambang tubuh dilengkapi dengan lambang mempelai. Dalam lambang “tubuh” ditekankan kesatuan dan kesamaan Kristus dengan Gereja.Oleh karena itu perlu melengkapi lambang itu dengan gambaran “mempelai”,  yang lebih mengungkapkan perbedaan dan kepribadian masing-masing. Di dalam kekhususan dan perbedaan terlaksana kesatuan cinta kasih.

            Kesatuan antara Kristus dan Gereja, Kepala dan anggota-anggota tubuh, berarti juga bahwa kedua-keduanya memang berbeda satu dari yang lain, tetapi berada dalam hubungan yang sangat pribadi. Aspek ini sering dinyatakan dengan gambar mempelai Pria dan wanita. Bahwa Kristus adalah pengantin Pria dari Gereja,  telah dinyatakan oleh para nabi, dan Yohanes Pembaptis mengumumkannya (bdk. Yoh 3:29). Tuhan sendiri menyebut diri sebagai “Pengantin Pria” (Mrk 22:1-14; 25: 1-13). Sang Rasul melukiskan Gereja dan setiap umat beriman, yang adalah anggota Tubuh Kristus, sebagai seorang mempelai wanita, yang ia tempatkan sebagai “tunangan” Kristus Tuhan, supaya ia menjadi satu roh dengan Dia (bdk. 1kor 6:15-17). Ia adalah pengantin wanita tanpa cacat dari Anak Domba tanpa cacat (why 22:17),  yang “Kristus… kasihi dan untuknya Ia telah menyerahkan diri-Nya,… untuk menguduskannya” (Ef 5: 25-26), yang telah Ia ikat dengan diri-Nya  melalui perjanjian abadi, dan seperti yang Ia rawat seperti tubuh-Nya sendiri (bdk Ef 5:29).

            Karena itu dalam  LG 8 dibicarakan tentang Gereja yang kelihatan dan sekaligus rohani. Konsili mengatakan bahwa”Gereja kudus, persekutuan iman, harapan dan cinta kasih, oleh Kristus satu-satunya Pengatara dibentuk dan terus-menerus dipelihara di dunia sini himpunan yang kelihatan, dan melalui Gereja itu Ia menyebarkan kebenaran dan rahmat  kepada semua orang”.[10]

            Titik pangkal pembicaraan Konsili di sini adalah Karya keselamatan Allah. Gereja adalah kumpulan Orang beriman. Maka perlu ditandaskan kesatuan antara segi sakramen dan segi misteri. Segi sakramen dirumuskan sebagai sebagai (1). Serikat yang disusun dengan jabatan hirarkis; (2). Perkumpulan yang tampak; (3). Gereja duniawi. Sedangkan segi misteri: (1). Tubuh mistik Kristus; (2) Persekutuan rohani; (3). Gereja yang dipengaruhi anugerah- anugerah surgawi.

            Di sini  menjadi jelasaTubuh Mistik Kristus  justru dimasukan dalam kategori misteri  rohani dan tidak kelihatan. Lain dengan Mystici Corporis yang justru menekankan segi organisatoris-kelihatan. Namun perlu diingat bahwa kata pesekutuan rohani  tidak dilawankan dengan  jasmani melainkan harus dihubungkan dengan Roh Kudus, sebaliknya dengan Gereja yang diperkaya dengan anugerah-anugerah surgarwi. Dan kedua unsur ini perlu menekankan segi misteri.

Demikian Konsili menyebut Gereja sebagai Tubuh Kristus pertama dan terutama karena dipersatukan dengan Kristus. Gereja adalah Tubuh Kristus  karena mengambil bagian dalam hidup  Kristus. Tekanan ada pada Kristus,  tidak pada Tubuh.  Karena itu, Paulus juga tidak menonjolkan keaneka-ragaman anggota melainkan kesatuan. Gereja disebut Tubuh Kristus sebab Kristus  menghidupkan dan mempersatukan para anggota Gereja.

Paulus dan Konstitusi menekankan hal kesatuan: tetapi, persoalan yang dihadapi berbeda. Soal yang dihadapi Paulus adalah perbedaan fungsi dan kharisma membahayakan kesatuan Gereja; oleh karena itu, Paulus menekankan kesatuan dalam semua fungsi dan jabatan yang berbeda itu. Dan soal yang dihadapi Gereja, yaitu tidak ada bahaya  soal  kharisma-kharisma dimana akan  memecah belah Gereja. Yang menjadi bahaya ialah kesatuan disamakan dengan keseragaman; bahaya bahwa kemungkinan untuk mengembangkan Gereja  dan hidup menurut keadaan dan kebutuhan Gereja  setempat kurang dindahkan. Jadi Konsili mau menekankan perbedaan dan kelainan yang terdapat di dalam Gereja  dikerjakan oleh satu Roh yang sama, yang mempergunakan semua  itu demi perkembagan Gereja seluruhnya,”Ada satu Roh yang menyebarkan bermacam-macam karunia-Nya  sekadar kekayaannya dan menurut kebutuhan pelayanan bagi kemanfaatan Gereja.[11]

G. Penutup

            Setelah mendalami dan membahas Tema Gereja sebagai Tubuh Kristus, maka dalam bagian penutup ini kami mengemukakan kembali beberapa hal yang menjadi inti pembahasan kami  dalam paper ini.

            Dalam surat Paulus  yaitu Roma dan I  Kor, yang  menjadi inti ialah: kesatuan antara  para anggota satu sama lain lebih ditekankan,  dan dan dalanEf- Kol di sana yang menjadi inti ialah: perhatian lebih diarahkan kepada kesatuan Gereja  (=tubuh) dengan Kristus (=Kepala). Dan dalam Bapa-bapa   misalnya Agustinus: bila berbicara tentang Tubuh Kristus  maka ia akan memberikan tekanan khusus   pada persekutuan mistik dan  tak kelihatan, yang mengikat semua orang yang dihidupi oleh rahmat Kristus. Sebaliknya pada masa Paus Pius XII: melalaui ensikliknya ia menekankan, Gereja  Yesus Kristus  sebagai Tubuh Mistik Kristus, dan menetapkan bahwa Tubuh mistik itu identik dengan Gereja Katolik Roma. Dengan demikian ia menekankan unsur kelihatan dari Gereja. Dalam Kon. Vat. II ditekankan tentang Gereja sebagai sakramen dan misteri, dan Kristus sebagai Kepala dan Mempelai. Semoga melalui Paper sederhana ini membantu kita menghayati Gereja sebagai Tubuh Kristus dalam kehidupan bersama, dan menghayati kembali melaui pembatisan yang telah kita terima dan melalui perayaan Ekaristi yang setiap hari kita rayakan.

Boumans, Boumans.  Telaah Tentang Ensiklik Tubuh Mistik Kristus Paus Pius XII, cet-2 (Jakarta: Celesty Hieronika, 2000)

 Jacobs, Tom.        Gereja Menurut Perjanjian Vatikan II, cet-5 (Yogyakarta –Kanisius, 1994)

 Jacobs, Tom         Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium (Yogyakarta: Kanisius,  1970)

—————           Gereja Menurut Perjanjian Baru (Yogayakarta: Kanisius, 1998)

Brown E. Raymond, Gereja Yang Apostolik ( Yogyakarta: Kanisius, 1998)

Dok. Konsili Vatikan II, Tonggak Sejarah Pedoman Arah (Jakarta: DOKPEN MAWI, 1983)

KWI, Katekismus  Gereja Katolik (Jakarta: Kanisius dan Obor, 1997)

Tetapi dalam surat kepada umat di Kolose dan Efesus gagasan ini dikembangkan lebih lanjut. Dalam Ef 1:23 dikatakan bahwa “jemaat adalah tubuh Kristus, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (Bdk. Kol 1L18.24). di sini yang dimaksudkan bukanlah kesatuan antara para anggota jemaat, melainkan kesatuan jemaat dengan Kristus. Oleh karena itu Kristus juga disebut “kepala” Gereja (lih Ef 1:22; 4:15; 5:23).  Hal itu jelas dari Ef 4: 16).

“Kristus adalah kepala. Dari pada-Nyalah seluru tubuh-yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota- menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”

Dari satu pihak dipertahankan gagasan Paulus mengenai kesatuan dalam jemat, yang”diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya”. Tetapi dari pihak lain dengan jelas dikatakan bahwa jemaat itu” menerima pertumbuhannya” dari Kristus, yang adalah kepala. Di sini pun masih dipergunakan bahasa kiasan, tetapi bukan sebagai perbandingan saja. Dengan gambaran tubuh mau dinyatakan kesatuan hidup antara Gereja dan Kristus. Gereja hidup dari Kristus, dan dipenuhi oleh daya ilahi-Nya (kol 2:10).[12]

Gereja adalah persekutuan dengan Yesus

  • Sejak awal, Yesus membiarkan para Murid-Nya mengambil bagian dalam kehidupan-Nya (bdk. Mrk1:16-20; 3:13-19), Ia menyingkapkan bagi mereka misteri Kerajaan Allah (bdk. Mat 13: 10-17) dan memberikan kepada bagian dalam perutusan-Nya, dalam kegembiraan-Nya (bdk Luk 10:17-20) dan dalam kesengsaraan-Nya (bdk. Luk 22: 28-30). Yesus berbicara mengenai hubungan akrab antara Dia dan mereka, yang mengikuti Dia,”Tinggalah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu…Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:4-5). Dan Ia menyatakan suatu persekutuan yang penuh rahasia dan real antara tubuh-Nya dan tubuh kita,”Barang sipa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56). (787)
  • Ketika ia tidak hadir lagi secara kelihatan di tengah murid-murid-nya, Yesus tidak meninggalkan mereka sebagai yatim piatu (bdk. Yoh 14:18). Ia menjajikan, tinggal beserta mereka sampai akhor zaman (bdk. Mat 28:20), dan mengutus kepada mereka roh-nya (Bdk. Yoh 20:22). Dalam arti saudara-saudarinya dari segala bangsa, dan dengan mengurniakan Roh-Nya ia secara  gaib membentuk mereka menjadi Tubuh-Nya” (LG 7). 788
  • Perbandingan Gereja dengan tubuh menyoroti hubungan yang mesra antara gereja dan Kristus. Gereja tidak hanya terkumpul di sekeliling-Nya, tetapi dipersatukan  di dalam Dia, dalam tubuh-Nya. Tiga aspek gereja sebagai Tubuh Kristus perlu ditonjolkan secara khusus: kesatuan semua anggota satu dengan yang lain oleh persatuannya dengan Kristus; Kristus sebagai Kepala tubuh; Gereja sebagai mempelai Kristus. 789

Tubuh yang satu-satunya

  • Kesatuan Tubuh tidak menghapus perbedaan antara anggota-anggota,”Dalam pembentukan Tubuh Kristus berlaku perbedaan anggota dan tugas. Satu Roh yang membagi-bagikan anugerah-nya yang bermacam-ragam, sesuai kekayaan-Nya  dan sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan pelayanan, demi kepentingan Gereja”. Kesatuan Tubuh Mistik menyebabkan dan mengembangkan di antara kamu beriman cinta satu sama lain,”Maka, bila ada satu anggota yang menderita, semua anggota ikut menderita; atau bilasatu anggota dihormati, semua anggota ikut bergembira” (LG 7). Kesatuan Tubuh Mistik mengatasi segala pemisahan antar manusia,”Karena kamu semua yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tida ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus”(Gal 3:27-28).791

Gereja adalah Mempelai Kristus.

            Kesatuan antara Kristus dan Gereja, Kepala dan anggota-anggota tubuh, berarti juga bahwa kedua-keduanya memang berbeda satu dari yang lain, tetapi berada dalam hubungan yang sangat pribadi. Aspek ini sering dinyatakan dengan gambar mempelai Pria dan wanita. Bahwa Kristus adalah pengantin Pria dari Gereja,  telah dinyatakan oleh para nabi, dan Yohanes Pembaptis mengumumkannya (bdk. Yoh 3:29). Tuhan sendiri menyebut diri sebagai “Pengantin Pria” (Mrk 22:1-14; 25: 1-13). Sang Rasul melukiskan Gereja dan setiap umat beriman, yang adalah anggota Tubuh Kristus, sebagai seorang mempelai wanita, yang ia tempatkan sebagai “tunangan” Kristus Tuhan, supaya ia menjadi satu roh dengan Dia (bdk. 1kor 6:15-17). Ia adalah pengantin wanita tanpa cacat dari Anak Domba tanpa cacat (why 22:17),  yang “Kristus… kasihi dan untuknya Ia telah menyerahkan diri-Nya,… untuk menguduskannya” (Ef 5: 25-26), yang telah ia ikat dengan diri-Nya  melalui perjanjian abadi, dan seperti yang ia rawat seperti tubuh-Nya sendiri (bdk Ef 5:29)

            “Seluruh Kristus, Kepala dan Tubuh, satu dari yang banyak…Apakah Kepala yang berbicara atau Tubuh yang berbicara, selalu Kristuslah yang berbicara:Ia berbicara baik dalam peranan-Nya sebagai Kepala, maupun dalam peranan Tubuh. Apa yang tertulis? Keduanya menjadi satu daging. Itu adalah rahasia yang sangat dalam; saya mengenakannya kepada Kristus dan Gereja’ (Ef 5:31-32). Dan Tuhan sendiri berkata dalam Injil: “Jadi mereka bukan lagi dua melainkan satu daging’(mat 19:6). Seperti kamu tahu, ada dua pribadi tetapi di pihak lain hanya satu oleh hubungan perkawinan…sebagai kepala Ia menamakan diri mempelai pria, sebagai tubuh mempelai wanita” (Agustinus, psal 74,4).

Ignatius dari Antiokhia mengatakan,”Dan masing-masing menjadi satu tubuh `dalam harmoni dari persekutuan, menghidupi dalam persekutuan dari Allah. Bermadah dalam satu seruan kepada Kristus Yesus, sehingga ia mengenali dan  mendengar kamu. Itu kabar yang baik, yang untuknya kamu menjadi anggota Tubuh Kristus, dalam kesatuan yang tak terpisahkan untuk selalu menjadi bagian dari Allah.

Beberapa pengertian Tubuh Kristus

  • Berarti memanggil kita kepada Tubuh Kristus di atas kayu salib (Rom 7:4), kemudian ungkapan Tubuh Kristus juga menunjuk Ekaristi (Ikor 11:24; Ikor 10:16-17), juga umat beriman sendiri, yang dipersatukan dengan Kristus sebagai tubuh-Nya (Ikor 12:27). Jadi, Ketiga unsur itu menunjukan dinamika kehadiran Kristus di dunia.
  • Gereja sebagai Tubuh Kristus menunjuk: kenyataan bahwa Gereja itu ada dalam persekutuan dengan Kristus yang baru, dan dalam Kristus setiap anggota menjadi satu bagian yang tak terpisahkan satu dari yang alian (Yoh 15:1-8).
  • Ungkapan yang sama menunjuk pada kenyataan bahwa Yesus Kristus adalah kepala Gereja (Ef 5:23; 1:22; Kol 1:18; 1:24 dan 2:19).  Namun kenyataan ini tidak boleh membuat kita mengidentifikasi Gereja sama dengan Kristus sendiri. Karena Gereja sebagai persekutuan umat beriman hanya bisa menjadi Tubuh Kristus dalam kesetiaan akan perintah-perintah-Nya

Perlu diperhatikan bahwa teks-teks Kitab Suci mengenai Tubuh Kristus  berbicara mengenai Kristus yang mulia. Tuhan yang mulia “dengan mengaruniakan Roh-Nya secara gaib membentuk orang beriman menjadi Tubu-Nya (LG 6). “Dialah damai –sejahtera kita” (Ef 2:14). Dia yang dalam Injil Yohanes telah bersabda,”Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32).

            Dalam arti sesungguhnya, proses pembentukan Tubuh baru mulai dengan peninggian Yesus, yakni dengan wafat dan kebangkitan-nya. Tetapi itu tidak berarti bahwa sabda dan karya Yesus sebelumnya tidak ada sangkut pautnya dengan pembentukan Gereja. Sebab Gereja berakar dalam seluruh sejarah keselamatan Tuhan, dan terbentuk secara bertahap. Dalam Proses pembentukan itu wafat dan kebangkitan Kristus, beserta pengutusan Roh Kudus, merupakan peristiwa-peristiwa yang paling menentukan.


[1]  Hans Kung, The Church (Burn  dan Oates, 1967), hlm. 234, dalam T. Jacobs, Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium (Yogyakarta: Kanisius,  1970), hlm 182.

[2] KWI, Katekismus  Gereja Katolik

[3] Bdk. D. Deden, Tentang Gereja (Semarang: Yayasan Kanisius, 1968), hlm. 55.

[4] Tom Jacobs, Konstitusi Dogmatis….hlm. 179.

[5] Ibid.,….hlm. 179.

[6] Avery Dulles, Model-model Gereja  (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 48.

[7] Bdk. Josef Boumans, Telaah Tentang Ensiklik Tubuh Mistik Kristus Paus Pius XII, cet-2 (Jakarta: Celesty Hieronika, 2000), hlm. 12-23.

[8] Avery Dulles, Model-model Gereja… hlm. 49.

[9]Bdk.  Tom Jacobs, Gereja Menurut Perjanjian Vatikan II, cet-5 (Yogyakarta –Kanisius, 1994), hlm. 21-22.

[10] Dok. Konsili Vatikan II, Tonggak Sejarah Pedoman Arah (Jakarta: DOKPEN MAWI, 1983), hlm. 71.

[11] Bdk. Tom Jacobs, Konstitusi Dogmatis….hlm. 186-187.

[12] KWI, Katekismus  Gereja Katolik

HISTORISITAS DAN MAKNA KEBANGKITAN YESUS KRISTUS (BAGI YESUS DAN UMAT KRISTIANI)

Posted in Leonardus on Mei 3, 2022 by Leonardus Ansis

DISUSUN

OLEH

ANDREAS  SOAT   RUMATORA

LEO LELYEMIN

YOHANIS ARTS LONDAR

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA

SMU SWASTA DISAMAKAN SANATA KARYA LANGGUR

TAHUN AJARAN

2005-2005

HALAMAN PENGESAHAN

Karya tulis ini telah dilihat dan disetujui

Guru Bidang Studi                                                                                             Pembimbing

Ny. M. Renmeuw                                                                                        Fr. Yono Temorubun

Kepala Sekolah

SMA Sanata Karya Langgur

Bpk. Martinus Mon, S.pd.

NIP: 313

KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas bimbingan dan penyertaanNya kepada penulis melalui berbagai cara, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.

BAB I

HISTORISITAS DAN MAKNA KEBANGKITAN YESUS KRISTUS

(BAGI YESUS DAN UMAT KRISTIANI)

I. Pendahuluan

            Titik tolak pewartaan Gereja perdana adalah pengalaman para murid Yesus Kristus akan peristiwa kebangkitan Guru mereka, yakni Yesus sendiri.       

            Tentang kebangkitan Yesus, semua Kitab Perjanjian Baru sepakat.  Dalam semua kitab PB, puncak pewartaan ialah bahwa Allah telah membangkitkan Anak-Nya dari antara orang mati (bdk.  1Tes 1:10), dan bahwa para rasul “telah melihat Tuhan” (Yoh 20:25) setelah ia wafat. Yang mereka lihat itu bukan jenazah melainkan Tuhan yang hidup. Keyakinan bahwa Tuhan itu hidup adalah pusat dan batu penjuru pewartaan sebagaimana disampaikan oleh Paulus maupun rasul-rasul lain.

            Nah, dalam tulisan ini kami ingin menulusuri kembali historisitas kebangkitan Yesus sebagaimana yang diwartakan oleh rasul-rasul  supaya dengan melihat nilai dan keyakinan iman mereka, turut membantu orang beriman masa kini untuk lebih memahami nilai dan makna imannya bagi kehidupan masa kini; hidup iman sendiri bisa dipertanggung jawabkan dan maknanya dalam hidup bisa dihayati dalam hidup pribadi maupun bersama-sama dengan umat beriman lainnya. Selain itu, kami ingin mengetahui apa Makna kebangkitan itu sendiri bagi Yesus.

            Oleh karena itu, ada tiga hal yang hendak ditelusuri: histrorisitas kebangkitan Yesus; arti dan makna kebangkitan itu bagi Yesus sendiri; serta makna dan nilai kebangkitan Yesus Kristus bagi kehidupan iman Kristen.

II. Historisitas Kebangkitan

            Dalam bagian historisitas kebangkitan ini kami akan menguraikan warta kebangkitan Yesus menurut Gereja Perdana, kemudian warta kebangkitan menurut keempat Injil serta warta kebangkitan menurut Rasul Paulus.

II.1. Kebangkitan Yesus Kristus Menurut  Gereja Perdana

            Dalam pewartaan Gereja perdana ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan, yakni perwataan itu sendiri; kedua isi perwataan yang menyangkut penampakan Yesus Kristus yang dimuliakan; dan ketiga pewartaan makam kosong sebagai tanda Kristus yang telah bangkit.

II.1.1. Pewartaan  Tentang Yesus Yang Bangkit

                Tulisan Perjanjian Baru menyajikan pewartaan akan Yesus Kristus yang bangkit, suatu kesaksian bahwa kebangkitan Kristus itu berarti bagi keselamatan manusia. Di sini kita melihat bahwa yang menjadi inti pewartaan adalah pengalaman akan Yesus Kristus yang dibangkitkan oleh Allah, setelah mengalami penderitaan dan wafat. Mula-mula dikatakan bahwa Yesus yang dibangkitkan itu harus menderita karena keharusan ilahi (Kis 2:23 bdk. 4:28; 17:5), kemudian dijelaskan nasib malang itu sesuai dengan Alkitab (Kis 3:18; 10:45).[1] Sehingga tidak heran bahwa perwartaan tentang kebangkitan menduduki tempat utama. Dia kamu bunuh, tetapi dibangkitkan oleh Allah”, demikianlah rumus utama yang berulang kali dikedepankan. Pada waktu perhatian umat kristen seluruhnya terarah kepada kepada kebangkitan Kristus, Kristus dipandang mereka sebagai ada, hidup dan bekerja.[2]

            Dengan demikian tekanan pewartaan menjadi jelas, yakni kebangkitan Yesus. Pokok pewartaan Gereja perdana adalah Yesus dari Nazaret yang mati terbunuh, namun oleh Allah dibangkitkan dari alam maut dan dimuliakan.

II.1.2. Kisah PenampakanYesus Yang Dibangkitkan Dari Alam Maut.

                Sebelum menelusuri kisah penampakan itu sendiri, sebaiknya titik tolak pemahaman dijelaskan, berdasarkan Kis 10:40 dan Gal 1:16. Dalam kedua teks itu ditegaskan bahwa penampakan Yesus bukanlah sebuah pengalaman jasmani yang dapat diamati oleh setiap orang, melainkan bagi orang yang secara khusus dipilih Allah sesuai dengan prakarsa-Nya. Penampakan adalah karya Allah semata-mata, bukan sesuatu yang bisa dicari orang.

            Dalam Kis 10:40 dikatakan bahwa Allah membuat Yesus menjadi nyata, bukan kepada seluruh umat melainkan hanya kepada saksi yang lebih dahulu dipilih oleh Allah.Yesus yang dibangkitkan Allah itu menjadi nyata hanya bagi sekelompok orang saja yang ditentukan Allah sebelumnya.

            Dalam Gal 1:16 kita bertemu dengan pembelaan Santo Paulus atas panggilannya sebagai pewarta injil. Ditegaskan bahwa Injil-nya diterima dari Allah. Injil itu ialah Kristus telah bangkit dan menjadi kyrios bagi semua. Dalam ayat ini Paulus mengingatkan peristiwa di perjalanan ke Damsyik dan di situ ditegaskan bahwa Allah berkenan menyingkapkan Anak-Nya kepada dirinya. Pengalaman Paulus jelas merupakan pengalaman batin, dan bukan semata-mata pengalaman lahiriah. Menurut pengalaman ini Paulus dipilih sejak kandungan ibu (Gal 1:15). Jadi, jelas penglihatan itu hanya berlaku bagi orang-orang yang dipilih. Penglihatan itu semata-mata karya Allah.

            Dalam kisah-kisah penampakan ternyata tampak gejala yang amat lahiriah. Yesus makan, minum (Luk 24:41-43; Yoh 21:5.12-13) dapat diraba dan disentuh (Luk 24:39; Yoh 20:27) mempertunjukkan lambung dan tangan (Luk 24:39; Yoh 20:20) bahkan mengantar para murid naik bukit. Harus diakui bahwa dalam kisah-kisah penampakan, hal-hal yang sangat manusiawi belaka, seperti mendengar, melihat belum cukup, musti butuh kekuatan dari Allah untuk menangkap  penampakan Yesus yang mulia itu.

            Gereja perdana yakin bahwa Yesus sendiri secara aktual hidup dan oleh karena itu dibangkitkanlah oleh Allah dari maut. Yesus yang bangkit  itu menjadi “nyata” dalam pengalaman iman. Pengalaman iman itu akhirnya tampak dalam perubahan hidup para saksi yang mengenali Yesus Kristus yang bangkit itu. Maka perubahan hidup tampak dalam saksi-saksi, yang berani mepertaruhkan hidup mereka sepenuhnya demi Yesus Kristus itu, menjadi tanda sejarah kebangkitan Yesus Kristus dalam kemuliaan-Nya.[3]

II.1.3. Makam Kosong

            Kisah-kisah tentang makam Yesus yang kosong, (mat 28:1.5-7; Luk 24:1-11; Mrk 16:1-8; Yoh 20:1-10. 11-13) mempunyai peranan yang kurang lebih sama dengan kisah penampakan Yesus yang bangit dalam pewartaan Gereja Perdana. Apa yang hendak diungkapkan dalam kedua bentuk kisah  itu ialah keyakinan bahwa Allah telah membangktikan Yesus dari alam amut. Hal itu bukan  karena keinginan para murid, melainkan karena prakarsa Allah.

            Kisah makam kosong adalah pewartaan yang berkembang dalam situasi tertentu, untuk mengungkapkan pengalaman dasar: Yesus Kristus dibangkitkan oleh Allah. Penampakan dan makam yang kosong jelas menjadi wahana proklamasi bahwa Yesus dibangkitkan oleh Allah dari alam maut. Kejadian kebangkitan Yesus sendiri merupakan pengalaman batin orang-orang yang menjadi saksinya. Mereka yakin bahwa Yesus dibangkitkan oleh Allah sehingga mereka mempetaruhkan keadaan itu sebagai kenyataan yang menentukan hidup mereka.[4]

            Secara historis dapat dipastikan bahwa tradisi tentang makam yang kosong itu baru timbul sesudah kepercayaan para murid akan kebangkitan Yesus. Namun, kita harus berkesimpulan bahwa makam kosong bukanlah bukti kebangkitan Yesus melainkan praandaian.

III. Kisah Kebangkitan Menurut Keempat Injil

                Kisah kebangkitan sebagaimana terdapat dalam keempat Injil memperlihatkan pengaruh teologi Gereja Purba dan para pengarang injil sendiri. Maka untuk menentukan fakta historis -khususnya sebagai pengalaman para rasul sendiri- perlu diperbandingkan dahulu kisah-kisah kebangkitan itu.

            Keempat pengarang Injil “membungkus” berita tentang kebangkitan Yesus itu dalam cerita-cerita yang, jika kita membandingkannya, ternyata sangat berbeda satu sama lain. Markus dan Lukas misalnya menyebut ada perempuan pada makam (tetapi bukan yang sama). Matius menyebut dua dan Yohanes menyebut satu (tapi yang satu berkata dalam Yoh 20:2: ”Kami tidak tahu…”). Begitu juga dalam Markus ada tertulis, ”Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga” (Mrk 16:8), sedangkan dalam Matius kita baca, “Mereka…berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus” (Mat 28:8). Dalam Injil Lukas tidak ada perintah untuk pergi ke Galilea, tapi dalam Injil Matius  perintah itu ada secara tersurat (Mat 28:10) dan dalam Markus ada juga, walau lebih tersirat (Mrk 16:7). Selanjutnya Matius dan Markus berbicara tentang satu orang malaikat, sedangkan Lukas dan Yohanes  tentang dua orang. Tetapi dalam Injil Yohanes, dua orang malaikat itu disebut dalam rangka kunjugan kedua, dan malaikat itu tidak berkata-kata. Dalam Matius, malaikat duduk di batu makam, sedangkan dalam ketiga Injil lainnya ia berada dalam makam. Sesudah adegan makam kosong, Matius menambahkan suatu penampakan Yesus kepada perempuan yang tidak terdapat dalam Injil-injil lain. Mengenai penampakan-penampakan Yesus itu harus dikatakan bahwa ceritera dalam keempat kitab Injil berbeda-beda, sama seperti halnya dalam ceritera tentang kubur yang kosong. Penampakan yang disebut oleh penginjil yang satu ini tidak disebut oleh penginjil yang lain, dan apabila mereka berbicara tentang penampakan yang sama, berbeda dalam hal detail.

            Semua ini membuat para ekseget berkesimpulan bahwa dibandingkan dengan kisah sengsara –ceritera tentang kebangkitan jauh lebih berbeda-beda antara ceritera yang satu dengan cerita yang lain. Keragaman-keragaman ini tidak mengherankan, sebab sengsara Yesus adalah satu peristiwa tunggal (meskipun masing-masing penginjil menyorotinya dari sudut yang berlain-lainan, sesuai dengan pandangan teologis seluruh karangan Injil masing-masing yang berbeda-beda pula). Sedangkan peristiwa-peristiwa Paska memang banyak: ”Dengan banyak tanda Ia membuktikan bahwa Ia hidup” (Kis 1:13). Selain itu para pengarang Injil tidaklah berusaha memberitakan semua peristiwa itu secara lengkap. Mereka memilih beberapa saja, tidak lebih daripada yang mereka anggap perlu untuk mewartakan secara tepat amanat Paska yang satu dan sama. Tentu saja pilihan tersebut dilakukan dalam rangka pandangan teologis yang menandai dan mewarnai masing-masing kitab Injil. Akibatnya ialah berbentuk berbagai-bagai ceritera yang kesemuanya mengandung warta yang tunggal ini: Yesus telah bangkit, Ia hidup.  Dalam hal detail, semua ceritera itu, ada perbedaan satu sama lain, tetapi dalam hal paling pokok tidak ada perbedaan. Hal paling pokok ialah Yesus telah bangkit, Ia Hidup!

            Bahkan lebih jelas  tentang  kisah kebangkitan Yesus bisa bisa kita baca dalam Luk 24:45-46. Di sini dikatakan bahwa Tuhan yang bangkit itu menjelaskan secara terperinci dari Kitab Suci, bahwa Ia bukan hanya menderita, tetapi Ia harus bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Namun, para murid tidak mengerti tentang nubuat tersebut (bdk. Luk 18:34). Walaupun Yesus telah berkata bahwa “segala sesuatu yang telah ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi (Luk. 18:31).[5]

            Jadi, walaupun ceritera Paska dalam keempat Injil tidak banyak diselaraskan satu sama lain, namun semua ceritera bersesuaian dalam hal-hal besar ini:

  • makam yang kosong,
  • penampakan malaikat,
  • dan terutama warta yang sebenarnya, yakni bahwa Yesus hidup.[6]

Tentang perbedaan antara ceritera-ceritera Paska itu masih patut dicatat ketiga hal berikut:

  • Perbedaan tersebut rupanya agak mencerminkan sedikit perasaan “bingung-campur-        gembira” yang menguasai hati orang-orang pada hari pertama minggu itu, ketika            HIDUP diwartakan di mana sangkanya kamatian terdapat.
  • Perbedaan itu pun memperlihatkan dengan jelas kepastian dan kejujuran Gereja perdana, sebab orang Kristen purba tidak”melicinkan” teks-teks dengan          menghilangkan perbedaan yang  terdapat antara ceritera yang satu dengan yang lain. sebaliknya, dalam segala kebebasan rohani, mereka membiarkan ceritera-ceritera itu sebagaimana adanya.

            Yang terutama ditonjolkan oleh perbedaan tersebut ialah adanya kesatuan amanat Paska yang meresapi semua ceritera sebagai warta tunggal. Yang berlaku untuk semua kitab Injil,  yakni bahwa ditulis bukan sebagai “riwayat hidup Yesus” dalam arti yang sesungguhnya melainkan sebagi suatu amanat, suatu pewartaan dan kesaksian, hal itu berlaku juga untuk ceritera Paska tentang kebangkitan Kristus.[7]

IV. Kisah Kebangkitan Menurut Rasul Paulus

            Seluruh agama Kristiani bergantung pada kebangkitan Yesus, sebagaimana ditandaskan  Santo Paulus, “Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu… dan kamu masih hidup dalam dosamu” (I Kor 15:14,17).

            Tanpa kebangkitan Kristus -demikian Paulus melanjutkan refleksinya- kami para rasul adalah pembohong dan kamu orang yang dibohongi, yakni secara menyedihkan sekali, sebab, “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus,  maka kitalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (I Kor 15:19).

            Para rasul memang awalnya merasa kecewa dengan kematian Kristus, akan tetapi hal itu tidak membuat mereka kemudian berkhayal tentang kebangkitan Kristus. Sebaliknya mereka nekad untuk berbuat apa saja, dan hal itu nampak dalam satu hal saja dalam segala kesederhanaannya,”…yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati (I Kor 15:20).

            Untuk lebih jelas kita akan melihat kesaksian tertua yang kita temukan dalam surat pertama Paulus kepada umat di Korintus (I Kor 15:3-5). Itu merupakan rumusan terpenting dari “Kerygma Paska”. Namun, sebelum  melihat kesaksian Paulus, kita akan melihat lebih dahulu beberapa rumusan iman tentang kebangkitan Kristus.

             Sebagai contoh dapat dikemukakan aklamasi amat tua yang barangkali berasal dari liturgi:”Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon!” (Luk 24:34). Rumusan kerygmatis yang lain ialah kutipan berikut, “Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan bahwa Ia menampakan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari orang mati” (Kis 10: 40-41). Rumusan lain yang menyebutkan penampakan Kristus yang telah bangkit, tetapi tidak langsung mengutip kesaksian, ialah kesaksian l Tim 3:16  yang berasal dari ibadat Kristen purba.

            Ada juga beberapa rumusan iman serta serta madah-madah yang tidak menyinggung penampakan, tetapi lansung memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus, misalnya: Rm 1:3-4 dan madah Kristus dalam Flp 2:6-11, yang kedua-duanya bersifat pra-Paulus. Selain itu terdapat rumusan katekis tua dalam Rm 10:9 yang berbunyi, ”Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati,  maka kamu akan diselamatkan” (Rm 10:9).

            Banyak pernyataan iman akan kebangkitan terdapat dalam bab-bab pertama Kisah Para Rasul, misalnya: “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua (para rasul) adalah saksi (kis 2:32). Bagitu pula -antara lain- Kis 3:15 dan 5:31-32.  Teks lain lagi, di luar Kisah Para Rasul, yaitu Rm 10:5-8; Ef 4:7-12; 1 Petr 3:18-22; 4:6.[8]

            Akan tetapi rumusan paling tersohor dan penting terdapat dalam I Kor 15:3-8  surat itu juga yang memuat berita yang tua sekali mengenai penetapan Ekaristi. Dan sebagaimana tentang berita Ekaristi, begitu pula berita mengenai kebangkitan Kristus, Paulus berkata bahwa ia telah menerima berita itu. Ini berarti bahwa cerita yang bersangkutan lebih tua daripada surat Korintus itu sendiri. Kalau demikian kita menyentuh di sini lapisan tertua kitab Perjanjian Baru, bantuan purbakala”-nya. Adapun isi berita tentang kebangkitan Kristus Yesus berbunyi:

            3”Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 4bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, 5 bahwa Ia telah menampakan diri  kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. 6 Sesudah itu Ia menampakan  diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa diantaranya telah mati. 7 Selanjutnya Ia menampakan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua Rasul. 8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya (I Kor 15:3-8)

            Karena pentingnya teks ini bagi iman kepercayaan Kristiani, kita akan menganalisis kesaksian yang termaktub di dalamnya secara lebih seksama. Untuk itu kita mengajukan kedua pertanyaan ini:

  1. Apa maksud sang saksi, yakni Santo Paulus, dengan pernyataannya dalam ayat 3 s.d. 8?
    1. Bagaimana dengan nilai historis kesaksiannya? Apa “daya bukti”-nya?

Jawaban a.

            Jelas sekali Paulus bermaksud membuktikan bahwa Yesus sungguh telah bangkit. Paulus mau mengemukakan bukti historis yang meyakinkan. Untuk itu disebutnya orang-orang yang dapat memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus, karena mereka sendiri telah melihat Yesus sesudah kebangkitan-Nya. Adapun orang-orang yang disebutkan Paulus yaitu:

  1. pertama-tama Petrus,
  2. kemudian ke-12 murid,
  3. lantas 500 saudara sekaligus,
  4. lalu Yakobus,
  5. kemudian semua rasul,
  6. akhirnya Paulus sendiri.

            Semua orang ini dapat memberi kesaksian, sebab kepada mereka itulah Yesus menampakkan diri setelah bangkit, ”Kepada mereka ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakan diri kepada mereka tentang Kerajaan Allah” (Kis 1:3).[9]

            Demikianlah maksud Paulus dalam perikop 1Kor 15:3-8  di mana ia mencatat bahwa beberapa dari ke-500 saudara itu telah meninggal, tetapi kebanyakan dari mereka masih hidup, sehingga dapat diminta keterangan tentang apa yang telah mereka lihat. Dengan catatan ini, Paulus  rupanya mau membela diri terhadap kemungkinan adanya “tuduhan” seolah-olah apa yang dikatakannya tentang penampakkan diri dari Yesus itu hanya isapan jempol saja.[10] Kesempatan untuk menghubungi banyak saksi yang masih hidup itu memperlengkapi kepercayaan akan kebangkitan Yesus dengan sebuah landasan kesaksian yang terjamin kebenarannya.

            Sedangkan, menanyakan nilai historis dari kesaksian kebangkitan sebagaimana tercantum dalam perikop tersebut (Jawaban b), orang harus mengakui bahwa nilai itu tinggi sekali. Daya buktinya amat besar, sebab berita Paulus ini dekat sekali dengan kejadian yang diberitakannya. Baik dipandang dari sudut pemberita, maupun kalau dilihat dari segi rumusan yang dipakai, maka tampak dengan jelas betapa dekat berita ini dengan peristiwanya sendiri.

            Mari kita melihat dari segi  pemberita: Paulus menulis surat ini pada tahun 56 atau 57 di kota Efesus. Berita ini sendiri lebih tua, sebab berita ini -menurut Paulus- telah diterimanya sendiri (ayat 3). Kapan Paulus menerimanya? Kita mengetahui (dari Galatia 1:18) bahwa Paulus berada di Yerusalem tiga tahun sesudah pertobatannya. Di Yerusalem dikunjunginya sekurang-kurangnya Petrus dan Yakobus (Gal 1:18-19). Nah, pertobatan Paulus berlangsung sekitar tahun 33 atau 35. Wafat Yesus terjadi kira-kira pada tahun 30. Kalau begitu Paulus berada di Yerusalem antara tahun 36-38, jadi antara 6 dan 8 tahun sesudah peristiwa penampakan itu terjadi. Ini berarti bahwa asal-usul berita ini masih dekat sekali pada peristiwa yang diberitakan Paulus dalam suratnya ini.[11]

            Kesimpulan tadi masih diperkuat lagi kalau kita menyelidiki rumusan berita Paulus ini. Untuk  sebagian, rumusan itu bercorak katekese, yaitu bagian ayat 3b s.d 5. Artinya bagian ini merupakan endapan tertulis dari pewartaan lisan pada tahun-tahun sebelumnya. Pewartaan itu diteruskan dari mulut ke mulut dan berisikan kabar berikut:

  • bahwa Kristus telah mati
  • bahwa Ia telah dikuburkan
  • bahwa Ia telah dibangkitkan
  • bahwa Ia  telah menampakkan diri.

            Karena bercorak katekese, maka teks 3b s.d. 5 terdiri dari unsur-unsur  yang sudah bersifat standar dan tetap (sudah baku). Jika rumusan sudah baku pada saat Paulus menulis surat-nya, ia tertolong oleh rumusan yang sudah lazim ini dan tidak hanya menggali ingatannya sendiri akan percakapannya dengan Petrus dan Yakobus tempo hari. Berita Paulus tentang kebangkitan Yesus ini tidak hanya berdasarkan ingatan Paulus sendiri tetapi juga berdasarkan tradisi katekis yang sudah tersebar luas dan yang masih dipakai sampai saat Paulus menulis suratnya.

            Berdasarkan kedua pertimbangan pertama, yaitu dekatnya Paulus sendiri pada peristiwa yang diberitakannya, dan kedua, umumnya berita yang – untuk sebagian- sudah dirumuskan sebelum Paulus mengirim surat kepada umat di Korintus ini, maka kita dapat berkesimpulan bahwa kita memiliki alasan-alasan historis yang kuat untuk berpendapat bahwa penampakkan Tuhan telah bangkit itu sungguh-sungguh dialami oleh sejumlah anggota umat Kristen perdana. Seandainya tanpa keyakinan iman seperti di atas, maka asal-usul umat Kristen purba di Yerusalem dan begitu asal-usul Gereja sedunia selam 20 abad ini menjadi teka-teki.

V. Makna Kebangkitan Yesus

                Setelah melihat historistitas kebangkitakanYesus, maka ada empat makna yang bisa kita telusuri: pertama, kebangkitan Yesus sebagai tindakan penyelamatanan Allah; kedua, makna kristologis; ketiga, makna penyelamatan bagi manusia.

V.I. Kebangkitan Yesus Sebagai Tindakan Penyelamatan Allah.

                Sudah di singgung di atas bahwa rumusan pewartaan akan kebangkitan Yesus, menegaskan peranan Allah. Hal ini memperjelas bahwa kebangkitan Yesus terutama memang karya Allah; kebangkitan Yesus adalah prakarsa Allah yang menyatakan kuat-kuasa-Nya dan daya serta kemuliaan-Nya (Rom 6:4; Kol 2:12; Ef 1:20).

            Kebangkitan Yesus selalu dilihat sebagai tindakan penyelesaian karya keselamatan Allah. Allah memenuhi janjinya dengan membangkitkan Yesus menjadi Sang Terurapi bagi keselamatan manusia yang jatuh ke dalam dosa. Dengan mengakui kebangkitan Yesus, orang beriman mengakui bahwa karya keselamatan Allah sampai pada puncak.[12]

V.2. Makna Kristologis Kebangkitan Kristus

                Kebangkitan Yesus tentu saja pertama-tama sebuah kejadian yang mengenai diri Yesus sendiri. Namun oleh Perjanjian Baru kemudian dipandang dalam hubungan dengan orang lain.  Kebangkitan pertama-tama dilihat sebagai sesuatu yang merubah diri pribadi Yesus, tetapi lebih-lebih sebagai sesuatu yang menentukan dan menyingkapkan kedudukan serta fungsi Yesus terhadap manusia.

            Dengan membangkitkan-Nya dari alam maut, maka  Allah mau menegaskan kembali siapa Yesus itu, sehingga kebangkitan Yesus membawa makna dan nilai bagi Yesus sendiri:

V.2.1. Allah Melantik-Nya Sebagai “Sang Terurapi” Atau “Kristus”

            Perjanjian Baru menjelaskan bahwa kebangkitan Yesus sebagai pengangkatan Yesus menjadi Sang Terurapi, atau yang disebut Kristus. Peranan dan kedudukan Yesus sebagai Kristus, Allah bagi manusia, menjadi nyata dalam kebangkitan-Nya. Melalui kebangkitan Allah meneguhkan semua yang dilakukan oleh Yesus Kristus semasa hidup-Nya. Apa yang dianggap terkutuk menurut ukuran manusia karena menderita dan wafat di salib, bagi Allah menjadi jalan penyelamatan. Allah menerima kematian Yesus dan membenarkan Dia dengan membangkitkan-Nya dari alam maut.[13]

            Dengan membangkitkan Dia dari alam maut, Allah malah melantik Yesus  sebagai Kristus yang diharapkan sepanjang sejarah keselamatan (Kis 2:24-36; 3:18).

            Perjanjian Baru kemudian menghubungkan pelantikan Yesus sebagai Kristus itu dengan kedudukan dan peranan-Nya sebagai hakim pada akhir zaman. Ia akan membebaskan orang dari kutuk akhir.

            Oleh karena itu, kristologis kebangkitan lalu bisa dikatakan demikian: dengan membangkitkan Yesus dari maut dan sekaligus mengangkat-Nya ke surga, Allah memberikan kepada Yesus kedudukan dan peranan keselamatan yang menentukan. Kebangkitan Yesus mempunyai peranan dalam keselamatan manusia, bukan semata-mata demi Dia.[14]

V.2.2.Allah Melantik Yesus Sebagai “Al-Masih”

            Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut Allah ternyata melantik Yesus sebagai Al-masih, raja eskatologis yang diharapkan orang Yahudi, penyelamat terakhir (Kis 2:24-36). Dalam kebangkitan-Nya Yesus dijadikan Kristos dan Kyrios atau menurut Rom 1:4: “Putera Allah”.

V.2.3. Allan MelantikYesus Menjadi “Putera Manusia”

            Adakalanya Perjanjian Baru mengartikan kebangkitan Yesus sebagai pelantikan-Nya menjadi Putera-manusia. “Putera-manusia” adalah seorang tokoh kerajaan tetapi tokoh kerajaan eskatologis, bahkan apokaliptis (bdk. Mat. 10:24; 13:41.41; 16:27-28).

            Adapun Mat 28:16-20 jelas melukiskan Kristus yang bangkit (dan menampakan diri) sebagai Putera-manusia yang sudah menerima kekuasaan atas langit dan bumi dengan ciri-ciri apokaliptis (bdk. Dan 7:11).

            Kebangkitan juga masih mengartikan sebagai pelantikan Putera-manusia, sebab kemuliaan yang diberikan  kepada Yesus segera membuat orang berpikir kepada “kemuliaan Putera-manusia” di akhir zaman.[15]

V.2.4.Allah Melantik Yesus Menjadi “Hakim Eskatologis”

            Lukas dalam Kis 1:10-11 juga menghubungkan penampakan Yesus yang terakhir dengan parousia-Nya kelak. Dengan demikian kebangkitan diartikan sebagai semacam antisipasi dari Parousia Putera manusia kelak dan jaminannya. Gagasan yang sama terungkap kalau kebangkitan Yesus juga diartikan sebagai pelantikan-Nya menjadi hakim eskatologis. Pikiran itu terungkap dalam Kis 10:24 di mana Petrus menandaskan bahwa Yesus telah ditentukan oleh Allah menjadi hakim atas orang hidup dan mati.

            Gagasan bahwa kebangkitan Yesus berarti pelantikan-Nya menjadi Raja eskatologis dan kuasa Allah untuk akhir zaman terungkap pula manakala dikatakan bahwa Yesus diangkat ke surga. “Dengan pengangkatan ke surga” berarti Allah menjadikan Dia raja masehi, raja zaman akhir yang berkuasa dan mulia;  sekaligus Allah menjadikan Dia menjadi “Kyrios” dan penyelamat,  dan segenap sumber kehidupan baru dalam Allah.[16]

V.2.5.Kebangkitan Yesus Memainkan Peranan-Apolgetis: Bagi Orang Kristen Purba

                Dengan disalibkannya maka Yesus -terutama dalam pandangan orang Yahudi- adalah seorang berdosa yang terkutuk oleh Allah (Bdk. Gal 3:15; Rom 8:3). Akan tetapi bagi orang Kristen kebangkitan menunjukkan bukti Allah bahwa Yesus bukanlah seorang berdosa melainkan orang benar. Dengan membangkitkan–Nya Allah membenarkan Dia. Sehingga Yohanes  menandaskan bahwa Yesus yang bangkit dan mengutus Roh kudus dan meyakinkan dunia  tentang kebenaran bahwa Yesus dengan kematian-Nya pergi ke Bapa (bdk. Yoh 16:8-10). Selebihnya dengan membangkitkan Yesus maka Allah sendiri menyatakan bahwa pewartaan Yesus tentang  Kerajaan Allah yang sudah dekat, bahkan di dalam Kristus serta karya-Nya bukanlah suatu kekeliruan belaka.

            Maka makna kristologis kebangkitan dan pengangkatan Yesus dapat diringkas sebagai berikut:  dengan membangkitkan Yesus dari alam maut dan sekaligus “mengangkat-Nya ke surga” Allah memberikan kepada Yesus berbagai fungsi/jabatan eskatologis: Putera Manusia, Kristos (Al-Masih), Kyrios, Hakim, Putera-Allah.

VI. Makna Kebangkitan Yesus Bagi Manusia.

                Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut, Allah juga membuka kesempatan bagi manusia lain yang bersatu dengan-Nya dalam derita dan maut. Karena wafat Yesus adalah solidaritas dengan orang berdosa. Kalau Kristus senasib dengan kita sampai pada kematian, maka kita tetap bersatu dengan Kristus, juga dalam kebangkitan. Keyakinan ini dirumuskan dengan mengatakan bahwa, “Yesus Kristus lalu menjadi yang sulung dalam kebangkitkan (Kol:18), karena Dia adalah yang sulung dari banyak saudara (Rom 8:29; Why1:15);  juga, ”Karena Kristus dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (IKor 15:20). Dengan demikian kita juga boleh mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya, ”Yesus tidak hanya wafat untuk kita, Ia juga dibangkitkan untuk kita” (2Kor 5:15). Maka, berulang kali dikatakan bahwa, ”Allah membangkitkan Yesus, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya” (IKor 6:14; 2Kor 4:14; Rom 8:11). “Jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa Allah akan- demi Yesus- membawa mereka yang telah meninggal, bersama-sama dengan Dia (I Tes 4:14).[17]

            Oleh karena itu, kebangkitan Yesus menjadi peristiwa yang representatif bagi manusia. Artinya bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya berdimensi pribadi, tetapi juga berdimensi sosial, representatif bagi manusia yang percaya. Yesus yang dibangkitkan menjamin masa depan manusia, secara nyata mengerjakan dan mengarahkan nasib manusia yang percaya kepada-Nya: Akulah Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25).

            Dengan demikian menjadi jelas bahwa kematian dan kebangkitan Yesus bukan hanya suatu kejadian individual dan perorangan, tetapi juga sebuah peristiwa representatif dari umat manusia. Bagaimanapun juga kematian dan kebangkitan serta kehidupan Kristus menjadi  kematian dan kebangkitan serta kehidupan eskatologis manusia juga. Jadi, kematian Kristus yang dibangkitkan sebagai kyrios umat tidak hanya menjamin masa depan saja, sebaliknya masa depan itu justru dijamin oleh Kristus yang sekarang secara efektif bekerja dan di dalam diri-Nya secara riil dan faktuil mengantisipasikan nasib eskatologis semua manusia, baik dalam kematian maupun kebangkitan-Nya. Di dalam Kristus manusia mengalami kematian dan pengadilan Allah dan juga mengalami kebangkitan dan kehidupan.[18]

            Dengan melihat makna kebangkitan Yesus bagi manusia seperti  di atas maka, sebenarnya orang beriman sudah mengalami secara efektif di dalam dirinya ”kuasa kebangkitan Kristus”, artinya kekuasaan ilahi yang membangkitkan Kristus dan melalui Kristus yang bangkit sampai kepada manusia. Di dalam dirinya orang membawa serta daya ilahi yang akan menghantar kepada kebangkitkan eskatologis tetapi melaui kematian, sama seperti Kristus melalui kematian sampai pada kebangkitan-Nya.  Dari sebab itu,  maka orang boleh berkata: berkat dan di dalam kematian serta kebangkitan Kristus manusia pun sudah mati dan bangkit.

Penutup

            Kebangkitan Kristus sendiri masih menimbulkan delima bagi sebagian orang, teristimewa mereka yang tidak beriman kepada kristus. Tetapi bagi orang kristen kebangkitan Kristus tidak perlu diragukan, karena hanya kepada orang-orang percayalah Allah memperkenalkan Yesus kepada mereka, dan kita adalah orang-orang yang percaya, maka Allah memperkenalkan Yesus kepada kita melalui para rasul dalam  pewartaan sabda-Nya. Karena itu kita tidak perlu ragu, seperti dikatakan oleh St. Paulus, ”Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati,  maka kamu akan diselamatkan” (Rm 10:9). Karena  “Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu… (I Kor 15:14,17), dan kita  kitalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (I Kor 15:19). Tapi, yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abineno, J. Aku Percaya Kepada Allah. Jakarta: BPK, 1983.

Darmawijaya, St.  Pengantar Ke dalam Misteri Yesus Kristus.  Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Dister, Niko Syukur.  Kristologi Sebuah Sketsa. Cetakan ke-4. Yogyakarta:Kanisius, 1992.

Donal Guthrie, Teologi Perjanjian I, Allah, Manusia, Kristus. Cetakan Ke-8, terj. Lisda Tirtapraja            Gamadhi dkk.,  Jakarta: BPK       Gunung Mulia, 2001.

Kasper, W. Jesus the Christ. London and New York, 1976.

Lembaga Biblika SS. D.  Kuliah Tertulis Mengenai Ajaran Kitab Suci. Jakarta: Titjurg, 1967.     

KWI. Iman Katolik. Cetakan ke-5. Jakarta-Yogyakarta: Obor-Kanisius, 1998.


                [1] St. Darmawijaya, Pengantar Ke dalam Misteri Yesus Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 1991),  hlm. 69.

                [2] Bdk. Lembaga Biblika SS. D,  Kuliah Tertulis Mengenai Ajaran Kitab Suci (Jakarta: Titjurg, 1967),  hlm. 142.

                [3] St. Darmawijaya, Pengantar Ke dalam Misteri Yesus Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 1991),  hlm.73.

                [4] Ibid., hlm.76-77.

                [5] Bdk. Donal Guthrie, Teologi Perjanjian I, Allah, Manusia, Kristus, cet. ke-8, terj. Lisda Tirtapraja Gamadhi dkk., (BPK Gunung Mulia, 2001), hlm. 432

                [6] Niko Syukur Dister, Kristologi Sebuah Sketsa, cet. ke-4(Yogyakarta:Kanisius, 1992),  hlm. 203.

                [7] Bdk. Niko Syukur Dister, Kristologi,  hlm. 203-204.

                [8] W. Kasper, Jesus the Christ (London dan New York, 1976), hlm 125-126.

                [9] Bdk. Donal Guthrie, Teologi Perjanjian I, hlm. 433.

                [10] J. Abineno, Aku Percaya Kepada Allah (Jakarta: BPK, 1983),  hlm. 59..

                [11] Nico Syukur Dister,  Kristologi Sebuah Sketsa, cet. ke-2 (Yogyakarta:Kanisius, 1988),200.

                [12] St. Darmawijaya, Pengantar Ke dalam Misteri Yesus Kristus,  hlm. 73.

                [13] Bdk. Donal Guthrie, Teologi Perjanjian I, hlm. 446.

                [14] St. Darmawijaya, Pengantar Ke dalam Misteri Yesus Kristus hlm. 79-80; juga, Bdk. C. Groenen, Kristologi, hlm.329-330.

                [15] C. Groenen, Kristologi, hlm.326.

                [16] Bdk. C. Groenen, Kristologi, hlm. 327-329.

                [17] Bdk.  KWI, Iman Katolik, cet. ke-5 (Jakarta-Yogyakarta: Obor- Kanisius, 1998),  hlm. 292-293.

                [18] Ibid, hlm. 345-346.

Ringkasan Buku Kristologi

Posted in Leonardus on Mei 3, 2022 by Leonardus Ansis

Oleh: Johanes Danny Surentu

Judul               Kristologi dan Allah Tritunggal

Pengarang       JB. Banawiratma

Penerbit           Yogyakarta: kanisius, 1986

Jumlah hal.      102

1. Kristologi dan Allah Tritunggal

A. Pendahuluan: yang dihafal

            Dalam buku ini penulis mempertanyakan kebiasaan dari umat Katolik menghafal Katekismus, di mana rumus-rumus yang dogmatis seperti tercantum dalam katekismus dan yang kita hafalkan mengenai Yesus Kristus adalah Anak Allah ataupun “Allah-Anak” (yang tidak sama artinya) dan malah Allah. Yesus Kristus, Allah dan manusia, menjadi juru selamat dunia oleh karena menebus manusia dari dosa-dosanya melalui wafat dan kebangkitan Kristus. Orang  Kristen juga yakin bahwa Allah, pencipta, dunia semesta, tentu saja Allah yang Mahaesa, tetapi serentak Allah Tritunggal, Allah-Bapa, Allah-anak dan Allah Roh Kudus. Oleh karena itu, orang Kristen perlu mendapat penjelasan yang cukup memadai.Yesus Kristus serentak Allah dan manusia oleh karena pada Yesus ada satu pribadi, yakni pribadi Allah-Anak (diri ilahi kedua) dan dua “kodrat”, yaitu keallahan dan kemanusiaan. Dan justru itulah sebabnya mengapa Yesus Kristus dapat menjadi Juru Selamat dan penebus dunia. Allah Tritunggal adalah yang Mahaesa oleh karena keallahan  memagang satu dan esa, tetapi ada tiga pribadi yang tidaklah sama.

B. Permasalahannya: Katekismus itu relevan?

            Secara emosional umat Kristen sangat terikat pada rumus-rumus katekismus. Namun, penulis berani menanyakan kalau rumus-rumus itu banyak artinya bagi umat, apa pula bagi penghayatan imannya? Apakah bagi umat relevan apa yang mereka hafalkan? Gambaran apa yang muncul dalam benak mereka bila atau mendengar tentang Allah yang Mahaesa- yang tampil dalam sekian banyak sambutan dan pidato, wejangan dan khotbah, yang- sesuai dengan pancasila- menggunakan ungkapan Tuhan/Allah yang maha esa namun oleh umat Kristen dikatakan tiga pribadi?

            Oleh karena itu, sunggu keyakinan Kristen dalam Katekismus penuh dengan paradoksal bunyinya: Serentak Allah dan manusia, serentak satu/esa dan tiga; ada satu pribadi dan dua kodrat dan ada tiga pribadi dan satu kodrat. Berhadapan dengan situasi di atas tentu umat beragama akan menggelangkan kepala dan bahkan ada umat juga yang mulai ragu.

C. Dogma/Katekismus dan Perjanjian Baru.

  • Katekismus tidak ditemukan dalam Perjanjian Baru.

            Masalah akan bertambah rumit apabila kita membaca “sumber”, pangkal agama dan keyakinan kristen, yaitu Kitab Suci, khususnya Perjanjian baru. Kalau baca dengan baik, orang tidak menemukan rumus seperti tercantum dalam katekismus dan pernah dihafalkan. Yang ditemukan adalah ceritera sekitar Yesus, sejumlah wejangan, nasihat dan petuah  dari Yesus dan oranglain. Dalam perjanjian  Baru kita menemukan puluhan gelar dan nama yang diberikan kepada Yesus, antara lain: Anak Allah (tidak pernah:Allah-anak) dan juga “Tuhan” (tidak sama arti dengan Tuhan yang Mahaesa), Juga tidak ditemukan Allah Tritunggal (kecuali dalam sisipan I yoh 5:7), tiga “pribadi”  ataupun istilah “kodrat manusia, kodrat Allah”. Kita juga bisa menemukan dalam PB tentang Allah yang disebut Bapa dan tampil juga gejala-gejala yang disebut Roh Kudus  atau roh.

  • Dogma atau katekismus hasil pertemuan Perjanjian Baru dengan alam pikiran Yunani.

            Meksipun orang merasakan perbedaan antara Perjanjian Baru dan Dogma/katekismus, namun orang Kristen mau mempertahankan bahwa katekismusnya dijabarkan dari Perjanjian Baru. Untuk mengatakan hal seperti di atas, maka kita perlu ingat data-data dari PB (selesai ditulis sekitar 120 M) dan “dogma” mengenai Yesus Kristus dan Allah Tritunggal,  berlangsung tiga sampai empat ratus tahun.  Dogma itu bahkan merupakan hasil pertemuan bahkan bentrokan antara iman keprcayaan Kristen seperti dalam PB dan serta kebudayaan Yunani (Romawi). Mengingat konteks itu,  dimana rumus-rumus dogma memakai alam pikiran Yunani dan malah istilah filsafat, maka bagi kita sekarang apalagi umat sering tidak jelas sama sekali artinya dan malah mudah menyesatkan pikiran tentang Yesus dan Allah.

            Maka sebaiknya umat Kristen hendaknya kembali saja ke sumbernya, yaitu Alkitab dan khususnya Perjanjian Baru.

  • Dogma dan Katekismus Memperkurus Perjanjian Baru.

            Orang yang membaca dan sedikit menggumuli PB dan Alkitab akan merasa bahwa iman kepercayaan Kristen mengenai Allah dan Yesus Kristus jauh lebih berisi dan luas daripada yang terungkap dalam dogma yang termaktub dalam katekismus. Tetapi kira-kira tahun 150 dan 500 M,  hanya beberapa unsur dari kekayan Alkitab dipikirkan dan diperkembangkan  lebih lanjut dan dirumuskan kembali dalam rangka kebudayaan Yunani dan pertikaian teologis-kristologis di kalangan umat kristen. Sedangkan kristologi-teologi yang menjadi matang antara tahun 150-500 sesudahnya sampai kini tidak berubah lagi. Hanya diulang-ulang, diperdalam dan diperhalus.

            Dengan demikian dogma-dogma mengenai  Allah Tritunggal dan Yesus Kristus yang dirumuskan Konsili Nikea (325), Efese (431), khalkedon (451) dan Konstantinopel II (553), seperti  tercantum dalam katekismus dan buku pelajaran agama, dan shayadat panjang hari Minggu oleh penulis diyakini bahwa semua itu kurang lebih berpangkal dalam Perjanjian Baru dan Kitab Suci, tetapi nyatanya ada sebuah seleksi unsur-unsur PB yang diperkembangkan.  Data-data PB kemudian dipindahkan dari alam pikiran yang melatarbelakanginya ke alam pikiran Yunani  yang agak berbeda.  Perbedaan itu adalah: dalam Kitab Suci tidak menanyakan apa atau siapa barang atau orang tertentu. K.S menanyakan dan menjawab: apa yang dikerjakan barang atau orang tertentu. Alam pikiran Alkitab adalah “fungsional”. Sebaliknya alam pikiran Yunani menanyakan: apa itu? Siapa orang itu?

            Sehubungan dengan Allah dan Yesus Kristus Kitab Suci menanggapi pertanyaan:Apa yang dikerjakan Allah, mana fungsi, kedudukan dan peranan Yesus Kristus bagi manusia? Alam pikiran Yunani mau menanggapi pertanyaan: Apa itu Allah, siapa sebenarnya Yesus Kristus itu? Nah, Dogma mengenai Allah (Tritunggal) dan Yesus Kristus sebagaimana dirumuskan selama tiga-empat abad pertama itu justru dalam alam pikiran Yunani mengungkapkan:bagaimana adanya Allah, siapakah Yesus Kristus. Misalnya KS menjelaskan bagaimana Yesus berfungsi sebagai Anak Allah, sedangkan dogma menegaskan bahwa Yesus yang berperan sebagai Anak Allah sebenarnya Allah-anak.

            Maka untuk meyelami apa yang sesungguhnya dimaksudkan dogma Allah Tritunggal dan Yesus Kristus dan untuk serentak memperkaya dan memperluas dogma itu orang mesti kembali kepada KS, khususnya PB.

D. Kristologi Perjanjian Baru

  • Kristologi berkembang

            Apa yang kita temukan dalam seluruh PB tidak lain dan tidak bukan ialah refleksi generasi Kristen yang pertama (selama ± 50 tahun) atas fenemona Yesus Kristus dari Nazaret. Pangkal seluruh refleksi itu ialah pengalaman sejumlah orang (entah berapa) dengan Yesus dari Nazaret  yang tampil pada bangsa Yahudi (secara teologis: umat Allah) sekitar 30 masehi. Ada sejumlah orang dari dekat menyaksikan Yesus, mendengar pewartan-Nya., mengenal nasib malang-Nya (sebagai “pemberontak” politis di eksekusi oleh instansi pemerintah Roma didukung oleh instansi politis-religius bangsa Yahudi, Sanhedrin). Pengalaman dengan Yesus yang hidup dan mengalami kegagalan tersebut disusul sebuah pengalaman lain pada orang-orang yang sama. Dan pengalaman itu entah bagaimana meyakinkan orang itu bahwa Yesus serta pewartaan-Nya sebenarnya tidak gagal, tetapi setelah lenyap dari panggung sejarah secara definitif Yesus toh tetap berpengaruh dan dengan demikian mewujudkan isi pokok pewartaan-Nya, yaitu apa yang diistilahkan “Kerajaan Allah”, artinya: Allah yang berkuasa guna membawa manusia kepada “keselamatan”; Allah  yang merealisasikan kuasa-Nya sebagai juru selamat manusia. Disadari juga secara definitif bahwa Yesus dari Nazaret bukanlah seorang tokoh politis, sosial,  atau ekonomis, melainkan seorang tokoh religius, yang pertama-tama berperan dalam relasi manusia dengan Allah dan sebaliknya. Yang lai-lain hanya akibat, implikasi dari peranan religius tu.

            Berpangkal pada seluruh pengalaman di atas generasi pertama umat kristen berusaha “mengerti”, mengartikan, menginterpretasikan fenomena Yesus dari Nazaret itu, baik selagi hidup di dunia maupun sesudahnya. Untuk menginterpretasikan Yesus itu generasi  Kristen pertama  terpaksa memanfaatkan sarana, kategori pemikiran yang tersedia baginya. Mula-mula mereka memanfaatkan-seperti dibuat oleh Yesus sendiri-kategori dari alam pemikiran religiusYahudi yang pada gilirannya berpangkal pada Perjanjian Lama. Tetapi kemudian- tidak lama setelah refleksi dimulai- mereka juga menggunakan kategori-kategori dari alam pikiran religius Yunani. Dan Yesus mau tidak mau juga  harus memanfaatkan alam pikiran dan bahasa religius yang lazim di kalangan Yahudi Palestina di zaman itu.

            Kita juga perlu menyadari bahwa generasi kristen pertama bukanlah sekelompok orang yang homogen dan tidak ada sebuah instansi yang “mengatur” semuanya. Masyarakat Yahudi di masa itu juga secara religius amat heterogen dan ketidakseragaaman yang diwarisi umat Kristen itu hanya ditambah besar waktu kekristenan mulai merambat  di dunia Yunani yang juga  majemuk. Karena itu tidak heran generasi kristen pertama coba menginterpretasikan fenemone Yesus  dan mengungkapkan keyakinan jauh dari seragam dan mengalami perkembangan yang pesat sekali.  Sehingga muncul pula interpretasi dan macam-macam pengungkapan yang tidak selalu dapat diperdamaikan satu sama lain.

  • Jadi melalui karangan-karangan yang terkumpul  dalam PB umat Kristen perdana dengan

pelbagai cara mengungkapkan keyakinannya, interpretasi yang serba yang majemuk tentang Yesus Kristus dan hal ihwal-Nya. Dan bagi umat Kristen selanjutnya karangan-karangan itulah yang menjadi sarana dasariah guna mendekati Yesus Kristus sebagai sasaran kepercayaan Kristen. Dalam rangka kristologi itu pun turut diungkapkan keyakinan umat Kristiani perdana tentang Allah (PL dan Keyakinan umat Yahudi).

            Sebagai sarana pengungkapkan antara lain diapakai cerita-cerita, seperti ditemukan dalam keempat karangan yang disebut “kitab Injil”. Dalam kisah itu pun disajikan sejumlah wejangan. Dalam keempat Injil orang menemukan pandangan menyeluruh tentang Yesus dan hal ihwal-Nya.hanya dalam keempat Injil itu masih dapat ditemukan pelbagai tahap dalam perkebangan refleksi umat Kristen terhadap Yesus, yang ditempuh sebelum membeku dalam karangan-karangan itu. Baiklah di sadari terus bahwa karangan berupa Kisah para Rasul  bukanlah sebuah laporan tentang masa lampau, melainkan berupa pewartaan dan katekese yang mengungkapkan keyakinan, interpretasi umat Kristen tentang peristiwa Yesus.

            Dalam karangan-karangan yang terkumpul dalam PB orang menemukan puluhan “gelar” yang diberikan kepada Yesus. Melalui gelar dan julukan itu umat Kristen mengungkapkan interpretasnya terhadap Yesus dan hal ihwal-Nya.  Sebagaimana sudah dikatakan bahwa gelar-gelar itu semua hasil pinjaman, entah dari alam pikiran religius Yahudi entah dari alam pikiran Yunani. Tidak ada satu pun gelar, julukan ciptaan umat Kristen.

            Ada serangkaian gelar tradisional yang diberikan kepada Yesus: Hamba Allah, nabi, utusan, Anak Manusia Gambar Allah. Gelar yang paling lazim adalah: Kristus (Mesias) dan Anak Allah atau Anak , bahkan (Anak) Tunggal. Banyak gelar yang kemudian hilang dari pemakaian, sedangkan Anak-Allah terus dipakai dan semakin menonjol. Gelar Anak-Allah dari awal sampai akhir tetap konsisten. Melalui Gelar ini terungkap relasi khusus dengan Allah, tetapi bagaimana persis relasi itu kabur.

            Ada juga gelar yang mengungkapkan relasi antara Yesus dengan manusia (percaya), misalanya: pokok keselamatan, gembala Agung dll. Gelar yang paling lazim adalah Tuhan. (Yunani: Kyrios, Aranya: Mara, Ibrani: adonai).  Gelar ini agak kabur. Selalu terungkap di dalam suatu superioritas tokoh yang diberi gelar itu. Jadi, bila kita menyebut Yesus “Tuhan” begitu saja orang belum juga tahu apa persis isi gelar itu, di mana terletak superioritas Yesus Kristus.

Ada satu gejala penting sehubungan dengan gelar “Tuhan” itu dan yang hanya terdapat dalam rangka Alkitab. Nama diri Allahnya Israel ialah Yahwe. Nama diri itu dalam terjemahan Yunani PL dialibahasakan  (tidak diterjemahkan) dengan gelar Tuhan itu. Gelar Tuhan sebenarnya  menjadi gelar khusus dari Allah dan semacam nama diri Allah. Gelar ini kemudian diambil-alihkan begitu saja dalam PB kepada Tuhan Yesus.

            Banyak gelar yang dipakai PB untuk mengungkapkan relasi Yesus dengan Allah dan sebaliknya, serta relasi Yesus dengan manusia mau menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada satupun  gelar yang dapat mengungkapkan segala sesuatu dan yang seluruhnya kena dan adekuat. Gelar-gelar itu saling mengisi, saling melengkapi dan saling mengoreksi. Semua gelar itu sebenarnya mau mengungkapkan apa yang dilakukan oleh Yesus.

E. Dua Kristologi

  • Kristologi dari bawah.

            Kristologi dari bawah berarti  refleksi eksistensial umat beriman sekitar Yesus Kristus berpangkal pada pengalaman dengan Yesus selagi hidup di dunia. Yesus dialami sebagai manusia ditengah manusia lain dan Ia mengalami nasib buruk seperti yang didapat menimpa manusia fana. Jadi jalan pemikiran dari bawah itu seolah-olah naik dari bawah (manusia) ke atas (Allah). Kristologi dari bawah itu sepenuh-penuh-Nya dapat mengevaluasikan manusia Yesus serta hal ihwal-Nya. Ternyatalah Yesus secara menyeluruh manusia, meskipun bukan manusia biasa saja.

  • Kristologi  dari atas

            Pemikiran ini menempuh jalan terbalik, yaitu dari Allah kepada manusia. Bukanlah manusia yang menjadi ilahi, melainkan Allah yang menjadi manusiawi. Jadi pemikiran berpangkal pada Allah kemudian  sampai kepada Yesus dari Nasaret.  Allah yang Mahaesa dari PL melalui dan dalam Yesus Kritus mendekati manusia dan memasuki situasi dan keadaan manusia.  Maka muncul pemikiran bahwa sebenarnya Yesus sebelumnya sudah ada pada Allah.

            Tetapi kristologi dari atas agak berbau mitologi dan agak sukar menampung pengalaman bahwa Yesus dari Nazaret sungguh-sungguh manusia yang benar-benar menempuh dan mengalami hal ihwal manusia, terutama benar-benar mati, dieksekusi di salib

  • Saling melengkapi.

            Kita boleh bersyukur karena PB memuat kedua kristologi di atas. Kedua kristologi ini berhadil mengungkapkan seluruh keyakinan dan iman kepercayaan umat Kristen tentang Yesus. Kedua kristologi ini saling melengkapi, entah nanti dalam penghayatan nanti tekanan bisa tergeser diletakan pada kristologi yang satu dan  atau kristologi yang lain. Dalam sejarah selanjutnya terutama dalam kristologi dari atas mulai diperkembangkan. Dogma kritologi masih mempertahankan kedua pendekatan itu, tetapi tekanan pada ciri ilahi Yesus Kristus. Nanti pada abad XX ini barulah tekanan mulai bergeser dari kristologi dari atas kepada kristologi dari bawah. Tidak dapat disangkal bahwa kristologi dari atas mulai disangkal sama sekali.

F. Kristologi dan Teologi: Allah Tritunggal.

            Kita tidak bisa menghindari kenyataan bahwa refleksi umat kristen atas Yesus Kristus mempengaruhi juga pemikirannya tentang Allah, teologi kristen

  • Monoteisme Perjanjian Baru.

            Dalam hal “hal  teologi”  umat kristen semula tampil dalam rangka agama Yahudi dahulu, kemudian berkembang dalam kerangka kebudayaan Yunani. Agama Yahudi di zaman PB mempertahankan suatu monoteisme mutlak dan menolak baik politeisme  maupun deisme. Hanya ada satu Allah yang terus aktif di dunia dan dalam terutama dalam sejarah. Konsep Allah dalam PL dan agama Yahudi  adalah suatu konsep dinamis. Allah dinamis dan transenden itulah yang menjadi sasaran iman kepercayaan dan terlebih sasaran pengharapan, andalan umat Israel/Yahudi yang percaya. Karena Allah telah menghantar mereka keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan, dan secara mutlak akan meraja atas dunia semesta dan seluruh umat manusia.

            Monoteisme dinamis Israel diambil alih oleh umat Kristen semula. Hanya berdasarkan pengalamannya dengan Yesus Kristus- dari awal sampai akhir- dan berdasarkan refleksi atas pengalaman itu umat Kristen memodifasikkan monoteisme dinamis itu. Kedudukan dan kerangkan peranan Yesus Kristus mesti dipasang dalam kerangka monoteisme tiu. Maka tindakan dasariah Allah, Juru Selamat tidak lagi: mengantar umat Israel keluar dari Mesir, melainkan: Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati dan meninggikan-Nya menjadi Tuhan dan Kristus. Ia pun telah mengutus Yesus sebagai penyambung lidah. Dengan membangkitkan dan meninggikan Yesus Allah sebenarnya sudah mulai “meraja”  dan secara mutlak, tak terbatalkan “berkuasa” atas umat manusia demi keselatamatannya.

  • Trinitaris Dinamis/ekonomis

            Adapun Allah Mahaesa yang dinamis dalam relasinya yang khusus dengan manusia disebut Bapa. Malah dalam PB kata “Allah” (Theos) kerap kali searti dengan “Bapa” (pater). Gelar itu dikhususkan untuk Allah, sehingga Yesus dan Roh Kudus tidak pernah disebut Bapa.  Juga dalam relasi khusus dan tunggal antara Yesus dan Allah, Allah digelari “Bapa”. Muncul ungkapan: Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Ini pun menjadi semacam gelar Allah yang khusus. Gelar itu berarti bahwa Allah dalam dan melalui Yesus secara dinamis menjalin hubungan dengan manusia percaya, yang mengakui Yesus sebagai “Tuhan (kyrios-penguasa).  Sekaligus terungkap pula ketergantungan Tuhan Yesus kepada Allah Bapa. Ketergantungan itu terungkap dalam gelar “Anak Allah/Bapa”. Untuk membedakan relasi Yesus dengan Allah dengan relasi manusia lain dengan Allah (Bapa) Yesus diberi gelar khusus, yakni: Anak Yang Tunggal. Adapun relasi dinamis antara Yesus dengan Allah-Bapa tidak lain dari roh ilahi, yang menciptakan Yesus dalam relasi khusunya dengan Allah-Bapa, yang terus menjiwai Yesus selama eksistensi-Nya di dunia, yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati.

            Maka dalam pandangan kristen yang terungkap dalam dalam PB tampil semacam “trinitaris” Tritunggal ilahi. Ada Allah, pangkal dan tujuan segala sesuatu, yang dalam relasi-Nya itu disebut Bapa. Ada Yesus Kristus, seorang manusia yang ditinggikan, yang karena relasi (dinamis) khusus dengan Allah diberi gelar Anak (Tunggal) dan karena itu mempunyai ciri ilahi. Dan ada Roh Kudus, dinamika ilahi yang dengan-Nya Allah (Bapa) secara dinamis hadir dlam yesus Kristus dan seluru eksisten-Nya, dahulu dan sekarang; dan dalam ketergantungan pada Yesus Kristus Roh Kudus, dinamika ilahi tetap aktif hadir di dunia dan dalam manusia sehingga Allah dan Yesus Kristus benar-benar berkuasa dan mempersatukan manusia berkat roh kudus itu baikdengan Yesus Kristus maupun dengan diri Allah.

            Jadi Trinitaris yang tampil dalam PB jelas suatu trinitaris dinamis. Para  teolog berkata tentang “Trinitaris ekonomis” berarti terwujud dalam tata (dan sejarah) penyelamatan. Ketiga faktor, unsur, pemeran yang tampil dalam tata (sejarah) penyelamatan mempunyai ciri ilahi dan sejauh itu satu.  Namun jelas Allah Bapa, Yesus Kristus, Anak-Nya dan Roh Kudus tidaklah satu dan sama saja dan masing-masing mempunyai kedudukan dan peranannya sendiri.

II. KRITOLOGI DAN ALLAH TRITUNGGAL II

Refleksi dalam konteks masyarakat Indonesia

A. Pengalaman Iman Umat Kristiani dahulu sampai kini.

            Pengalaman iman umat kristiani dari dahulu sampai kini tidak hanya diungkapkan dalam rumus-rumus ajaran, melainkan juga dalam rumusan doa. Dalam prefasi DSA II kta temukan rumus doa sebagai berikut: “sungguh layak dan sepantasnya, ya Bapa yang kudus, bahwa di mana pun juga kami selalu bersyukur kepada-Mu dengan perantaraan Yesus Putera-Mu yang terkasih. Dialah sabda-Mu; dan dengan sabda itu Engkau telah menciptakan segala sesuatu. Dialah pula yang telah Kauutus kepada kami sebagai  Penyelamat dan penebus. Ia menjadi manusia dengan kuasa Roh Kudus  dan dilahirkan oleh Santa Perawan Maria. Untuk melaksanakan  kehendakmu dan menjadikan kami umat_mu yang suci, ia relah merantangkan tangan di kayu salib supaya belenggu dosa dipatahkan dan cahaya kebangkitan dipancarkan”.

            Kita dapat mengucapkan rumus doa ini karena kita percaya, karena kita mempunyai pengalaman iman. Pengalaman iman kita berbeda dengan pengalaman para Rasul da orang-orang Yahudi, yang secara fisik dapat melihat, mendengarkan dan menjamah Yesus. Pengalaman kita adalah pengalaaman akan Roh Kudus. Dalam Roh kudus itu kita percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah. Melalui Yesus kita sampai kepada Allah, Bapa Tuhan kita yesus Kristus dan Bapa kita. Namun untuk sampai pada pemahaman seperti itu, kita perlu berangkat  dari pengalaman asli kita di Indonesia, supaya kita boleh mengerti sesuatu sesuai dengan keadaan kita yang konkret; kita memandang pengalaman religius kita, agar kenyataan kabar gembira, injil  Yesus semakin nampak dan semakin kita rasakan.

b. Peristiwa Yesus Kristus Membuka Rahasia Allah dan Rahasia Manusia: Peristiwa Pewahyuan

            Apakah arti Yesus kristus yang kita imani bagi kita yang hidup dalam kebudayaan   yang konkret, situasi yang konkret di Indonesia ini?  Kita coba memahami dengan berangkat dari tradisi kristiani, terutama yang terungkap dalam KS.

  • Semua melawan satu: kambing hitam unik bagi dunia.

            Masyarakat Yahudi pada zaman Yesus hidup dalam suatu konstruksi keseimbangan dari bermacam-macam kekuatan. Pertama-tama adalah penjajah Roma yang mengusai tanah dengan kekuatan militer. Kedua adalah kelompok Herodes yang mempunyai interese kelangsungan dinasti Herodes. Kelompok ketiga yaitu gerakan revolusioner (Kaum Zelot) yang karena alasan-alasan religius (ingin mempercepata kedatangan kerajaan Allah) mau mengusir penjajah Roma. Lalu kelompok keempat ialah kaum saduki  dan para pegawai negara Yerusalem yang kehidupan ekonominya terjamin oleh kuasa atas Bait Suci dan oleh kuasa penjajah. Selain itu ada juga kelompok kaum Farisi  yang sangat menjunjung tinggi hukum dan tradisi lisan dan mempunai cukup pengikut di tengah rakyat; lalu kaum Essensi yang meninggalkan ibadat resmi di Bait Suci, hidup dibawah hukum ketat, menantikan akhir dunia. Meskipun kelompok- kelompok biasanya  saling bermusuhan, namun mereka bersatu menolak Yesus. Tanpa persetujuan entah terbuka atau tertutup antara kaum Farisi, Saduki, dan Zelot hampir tidak mungkin Yesus dihukum mati; dan bahkan kaum Esseni pun hampir tidak mungkin mendukung “Pelanggar” hukum sabat itu.

            Bagaimana Persekongkolan melawan Yesus itu berkembang Injil memberitahukan bagaimana di Galilea terutama orang-orang Farisi melawan Yesus (Mrk 2:7); mereka memutuskan untuk membunuh Yesus (mrk 3:6). Orang Farisi kemudian bersekongkol dengan para pengikut Herodes.

            Situasi menjadi lebih ketika Yesus berada di Yerusalem untuk terakhir kalinya. Mulailah kaum  Saduki melawan Yesus (bdk. Mrk 11:15-17; Mrk 11: 27-12:9)-merupakan alsan pokok bgi para pemimpin  Yerusalem untuk melawan Nabi Galilea itu (mrk 11:18;12:12). Injil Sinoptik memberitahukan bahwa dua kelompok Saduki dan Farisi mencari kesempatan untuk membinasakan Yesus (Mrk 11:18; Mat 21:45-46; Luk 19:47; 20:19). Namun maksud ini tidak mudah dilaksanakan karena banyak rakyat yang memuja Dia. Karena itu para pemimpin takut teran-terang melawan Dia (mrk 12:12). Lalu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan lain untuk membunuh Dia. Dan waktu perayaan paskah itulah Yesus ditangkap, tentu saja atas penghianatan Yudas (mrk 14:1-2).

            Bagaimana keadaan rakyat?  Sulit memikirkan bahwa massa rakyat yang sama, yang bersorak-sorai ketika Yesus masuk ke Yerusalem, beberapa hari kemudia sangat menginginkan penyaliban Yesus. Pemimpin justru takut kepada rakyat. Namun diberitakan bahwa rakyat punya peranan dalam penyaliban Yesus. Kita coba memahami bahwa ketika para pemuka membawa Yesus kepada Pilatus mereka secara kebetulan menemukan sejumlah rakyat yang dapat diajak untuk  menuntut pembebasan Barabas. Tentang masalah ini kita tidak menemukan suatu kepastian historis. Meskipun demikian injil melihat wakil-wakil  seluruh rakyat dalm macam-macam kelompok ikut ambil bagian pada penolakan Yesus. Injil menekankan kebersamaan: mereka semua berseru,”Ia harus disalibkan!” (Mat 27:22) dan lagi, Biarlah darah-nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami” (27:25).

            Pernyataan-pernyataan di atas tidak berarti bahwa semua orang bertanggung jawab secara pribadi  atas penyaliban Yesus, Misalnya Yosef Arimate,”tidak setuju dengan putusan dan tindakan Mejelis itu… (Luk 23:51). Namun, tendensi Injil cenderung untuk melepaskan tanggung penyaliban Yesus kepada seluruh Israel menyangkut suatu pernyataan teologis yang dasariah, yakni bahwa roh/kuasa kejahatan sama, kecenderungan untuk kebohongan dan kekerasan ada pada semua orang. Sejauh ro/ kuasa yanga sama berdaya efektif dalam semua orang, maka semua orang melawan Dia.

  • Satu untuk semua: keselamatan merupakan pertukaran yang menakjubkan.

            Di antara banyak teks Perjanjian Baru terdapat satu pernyataan sangat padat yang dapat merupakan kunci untuk teologi kambin hitam; di situ problematik kebutaan kolektif dan pengatasannya dijadikan tema. Pernyataan tersebut adalah,”Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru”. (Mrk 12:10). Dalam isi perumpamaan-perumpamaan tentang tukang bangunan kita  bisa melihat tiga hal penting: 1). Pernyataan Yesus sebagai Anak terkasih. 2) pertikaian-Nya dengan musush-musuh penuh kekerasan. 3)  pengutusan-Nya dalam rangka tindakan Allah menghadapi orang-orang yang keras hati. Perumpamaan ini merupakan antisipasi atas apa yang akan menimpa Yesus dan an kebutaan kolektif dalam pewahyuan.

            Selanjutnya dikatakan bahwa alasan yang sangat menentukan untuk pembunuhan Yesus adalah: Pengakuan pribadi Yesus sebagai Putera Allah (Yoh 5:16…; 10:30dst; 19:7

Yesus adalah kebenaran  berhadapan dengan kebohongan, cinta berhadapan dengan rivalitas dan kekerasan. Dia memasuki risiko tersebut: Dia tidak membalas kebencian dengan kebencian tetapi menerima diri-Nya dikambinghitamkan dan dibunuh dan dengan demikian memang menyatakan diri sebagai Putera Allah yang benar, batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan mejadi batu penjuru. Kepada Yesus semua menumpahkan kekerasan, melalui kematian-Nya Roh Kudus dianugerahkan. Pembunuhan ditukar dengan kehidupan. Keselamatan merupakan pertukaran menakjubkan.

      Dapatkah peristiwa salib disebut sebagai korban? Surat Ibrani menyebut kematian Kristus sebagai korban, disebut pula pelayanan-Nya sebagai Imam Agung abadi. Bagaimana hal ini bisa dimengerti?  Suatu kesamaan yang tegas antara korban ritual perjanjian Lama dalam tindakan Kristus ialah bahwa darah memainkan peranan yang menentukan. Namun ada juga perbedaan yang besar: imam PL menumpahkan darah yang bukan darahnya sendiri (darah binatang; ibr 9:5; 10:4)),  sedangkan Yesus menyelesaikan tindakan perdamaian dengan membawa darah-Nya sendiri. Jadi, korban (salib) berarti penyerahan diri Yesus sampai konsekuensi terakhir penyerahan diri sehabis-habisnya. Kematian Yesus di salib  bukanlah korban kultis, melainkan seperti kematian nabi-nabi dan orang-orang yang benar yang dikejar-kejar dan dibunuh.

  • Peristiwa Yesus sebagai peristiwa trinitaris.

            Kehidupan yesus dapat dilukiskan sebagai gerak maju menuju salib. Seluruh hidup yesus merupakan eksistensi dalam pengosongan, perendahan, sebagai ketaatan sampai kematian di kayu salib. Dengan demikian kataatan Putera tiak hanya terjadi di kayu salib. Menjadi-Nya manusia adalah ketaataan kepada Bapa. Seluruh hidup-Nya adalah melaksanakan kehendak Bapa dan uncak ketaatan itu memang kematian mengerikan di kayu salib (Flp 2:8).

            Ketaatan Putera kepada Bapa selalu terjadi dalam Roh Kudus. Sebutan Putera Allah erat berhubungan dengan kehadiran roh Allah dalam diri Yesus. Yesus dipenuhi oleh Roh Allah. Kitab Suci memberikan kesaksian Roh Kudus berkarya dalam seluruh karya kehidupan Yesus. Puncak dari semua itu adalah peristiwa kematian di kayu salib sebagai peristiwa Allah menyejarah-itulah peristiwa penyelamatan.

  • Dalam Roh Kudus melalui Yesus Kristus kita beroleh jalan masuk kepada Bapa: sejarah kebebasan Allah, kebebasan Yesus dan kebebasan kita.

            Dalam KS kita temukan Allah (Bapa) sebagai yang mengutus Putra utuk mewahyukan dan menyelamatkan dunia (Yoh 3:17). Bapa mengutus Roh Kudus  (Yoh 14:26)., begitu pula Putera (Yoh 15:26; 16:7). Roh kudus diutus untuk mengajarkan sesuatu kepada para murid dan mengingatkan para murid akan semua yang telah dikatakan  Yesus kepada mereka (yoh 14:26; 16:14).

            Bapa adalah Pangkal, Perencana yang dengan bebas telah mengambil inisiatif penyelamatan, mengadakan ikatan rahmat. Begitu besar cinta Bapa  sehingga Ia menganugerahkan Putera-Nya yang tunggal dan dan bersama Dia serta melalui Roh-Nya. Yesus menjawab pengutusan Bapa dengan ketaatan penuh. Di sini kita melihat seberapa besar cinta, kebebasan Putera sehingga Ia mau menyerahkan  hidup bagi kita. Yesus menjadi perantara kita kepada Bapa.

            Kalau ditakatakan bahwa Roh Kudus tinggal di dalam diri kita, Roh itu adalah Roh Bapa dn Putera. Dalam Roh Kudus Putera tinggal juga dalam diri kita. Begitu pula dalam Roh Kudus melalui Putera Bapa tinggal dalam diri kita. Tindakan Allah yang bebas memberi diri kepada manusia sangat menghormati kebebasan manusia sampai konsekuensi yang paling akhir.

  • Kegembiraan Yesus Kristus sekarang ini di sini

            Kita mengakui dan menerima Yesus sebagai Kristus, Anak Allah, Juru Selamat karena kesaksian iman gereja dan karena kesaksian Roh Kudus. Kesaksian gereja yang kita lihat dan dengar, sampai kepada kita ang sdah selalu dipengaruhi oleh karya Roh Kudus.  Pengalaman iman kristen adalah pengalaman dihubungi oleh Allah sekarang ini, dalam kebudayaan dan situasi yang konkret  di sini. Karena pertemuan kita dengan Kristus inilah yang membuat kita berani menyapa Allah:Bapa tercinta.

            Iman kristiani didasari oleh pribadi Kristus dan iman para rasul. Maka pengalaman iman kristiani yang dikomunikasikan oleh Gereja tidak bisa terlepas  dari kesaksian para rasul, yang terungkap dalam kitab Suci dan dihayati oleh Gereja sepanjang masa sampai saat ini. Komunikasi iman kristiani menyangkut kegiatan komunikasi iman aktual kita sekarang ini dengan tradisi iman rasuli. Dari kegiatan komunikasi ini diharapkan muncul pemahaman dan raha keterlibatan baru. Dengan demikian iman hidup dan berkembang.

III. PROSES INKULTURASI

A. Setia Kepada Injil dan Yesus Kristus

            Inkulturasi  merupakan suatu proses yang terjadi kalau umat berusaha mengerti dan menghayati Injil Yesus Kristus.  Pusat  perhatian umat tertuju pada upaya  kita mengerti dan menghayati Injil Yesus Kristus di sini, sekarang ini”. Karena itu yang menjadi pertanyaan pokok adalah: Apakah umat berusaha setia kepada Injil Yesus Kristus dalam situasi dan tantangan  konkret yang dihadapi?

B. Istilah dan Masalah Inkulturasi

            Inkulturasi digunakan secara resmi dalam dokumen Gereja tahun 1977, yaitu sinode para uskup di Roma mengenai katekese, yang mengeluarkan  naskah  terakhir “Pesan kepada umat Allah”. Inkulturasi dimaksudkan sebagai proses umat setempat menghayati Injil Yesus Kristus dalam situasi dan kebudayaan setempat.

            Dalam rapat sinode P. Arrupe SJ berbicara mengenai katekese dan inkulturasi. Menurutnya inkulturasi terjadi kalau hdiup beriman digerakkan sungguh-sungguh oleh Roh Kudus menjadi pelayan Injil. Yesus Kristus adalah Juru Selamat bagi semua orang dengan semua kebudayaan mereka. Inkulturasi merupakan dialog terus menerus antara Sabda Allah dengan manusia dalam banyak segi dan cara kehidupannya. Inkulturasi merupakan wujud nyata hidup dan pesan kristiani dalam suatu lingkungan budaya yang ada. Hal nampak dalam keterbukaan Gereja terhadap bermacam-macam budaya. Gereja tidak lagi memandang  diri sebagai penderma agung, yang menyampaikan kebenaran-kebenaran kepada dunia, melainkan juga sebagai penerima. Budaya-budaya yang mendengarkan pewartaan mengenai Yesus turut memperkaya Gereja. Jadi, inkulturasi adalah usaha untuk mengerti dan memahami Injil tidak hanya dalam kebudayaan tertentu yang mengawang, melainkan dalam situasi konkret, di mana umat setempat hidup dan prihatin akan  masalah-masalah hidup bersama dalam masyarakat.

C. Dasar dan Arah Inkulturasi: Mengikuti Dinamika Karya Allah

            Kalau dicari dasar  usaha inkulturasi biasanya lalu dipikirkan inkarnasi, sabda Allah menjadi manusia. Namun hal ini belum cukup.  Pusat pengalaman kristiani tidak boleh dilupakan, yakni Yang telah disalibkan bangkit;  seperti Putera Allah mengambl darah dan daging manusia, masuk dalam kebudayaan tertentu, demikian pula Injil, kabar gembira penyelamatan mesti masuk dalam kebudayaan, menjadi satu dengan kebudayaan tersebut.

            Yang menjadi dasar usaha inkulturasi adalah Roh Kudus. Roh Kristus hadir dan berkara, yang menghidupkan umat Allah. Roh kudus itu pula yang membuka mata dan hati kita untuk kehadiran Yesus Kristus, Juru Selamat untuk semua orang, semua kebudayaan. Karena itu kegembiraan dan harapan, duka dan kecemesan menusia dewasa ini, terutama yang miskin dan terlantar, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus pula.

D.Usaha Inkulturasi Dalam Fungsi-Fungsi Dasariah Gereja: Umat Beriman Bergerak

             Masalah inkulturasi adalah masalah umat setempat yang berusaha mengerti dan menghayati Injil, kabar gembira penyelamatan Yesus Kristus. Usaha inkulturasi dapat dilukiskan dalam empat fungsi dasariah: (a) dalam persaudaraan umat, (b) yang mewartakan Injil, kabar gembira penyelamatan Yesus Kristus, (c) dan merayakan penyelamatan itu, (d) serta melaksanankan dalam pelayanan.

1. Pengalaman kristiani yang mendalam terjadi dalam persekutuan, dalam persaudaraan (koinonia).

            Jemaat Kristen awal hidup sehati-jiwa, segala sesuatu kepunyaan mereka bersama, mereka memberi kesaksian pesekutuan-persaudaraan. Saling mengasihi di antara para murid Yesus merupakan kesaksian yang dikehendaki Guru mereka:”Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pun kamu harus saling mengasihi.dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku (Yoh 13:34-35).

            Roh kudus hadir, mempersatukan orang satu sama lain. Roh yang satu dan sama memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya, kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama (lih Ikor 12:1-11).

            Setiap orang membutuhkan pengalaman persaudaraan, pengalaman diterima dan menerima orang lain dalam kelompok. Pengalaman persaudaraan yang mendalam terjadi dalam kelompok-kelompok kecil itu para anggota tidak merasa anonim, melainkan dikenal dan mengenal saudara-saudarinya.

2. Pewartaan Injil (kerygma).

            Pewartaan perlu diwartakan kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus, maupun pewartaan terus-menerus kepada orang beriman. Mewartakan kabar gembira  penyelamatan Yesus Kristus bukan hanya soal memberikan informasi, melainkan memberikan kesaksian. Memberikan kesaksian kepada orang mengandaikan pengalaman pernah ada di sana. Memberi kesaksian eksplesit dengan kata bukanlah hanya berbicara kepada, melainkan berbicara dengan orang-orang dalam situasi serta keprihatinan yang konkret, dalam kebudayaan tertentu. Berbicara dengan mengandaikan kemampuan dan kesanggupan mendengarkan masalah-masalah dan keprihatinan yang ada , baik yang diucapkan maupun yang tersembunyi.

3. Ibadat, Perayaan iman (Leitourgia)

            selanjutnya dalam liturgi umat merayakan warta penyelamatan Yesus Kristus yang telah diterima dan diimani. Itulah memoria Iesu,  kenangan penuh syukur atas tindakan penyelamatan Allah  melalui Yesus Kristus. Umat berkumpul merayakan persekutuan mereka melalui Yesus Kristus; mereka berdoa demi nama Yesus Kristus.

            Doa bersama demi nama Yesus Kristus hanya dapat terjadi dalam Roh Kudus. “Tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorang pun yang dapat mengakui:’Yesus adalah Tuhan’, selain dari oleh Roh Kudus.” (I Kor 12:3). Di sini kita melihat orang menyadari bahwa Yesus Kristuslah satu-satulah yang menentukan; dari Dia mereka hidup, percaya, berharap dan mencinta. Waktu jemaat Kristiani berdoa bersama demi nama Yesus yang mereka ikuti, Allah mendengarkan, mengabulkan doa mereka dan memenuhi mereka dengan Roh Kudus. (kis 4:13).

4. Pelayanan (diakonia)

            Persaudaran kita dalam Kristus dan diungkapkan dalam doa  bersama tidak bersifat  tertutup dan puas diri melainkan selalu terbuka untuk turut terlibat dalam pengutusan Yesus di dunia yang secara ringkas dilukiskan oleh Penginjil Lukas,”Roh Tuhan ada di atas-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;… (Luk 4:19-20). Pelayanan kita kepada orang lain digekan oleh Roh yang satu dan sama dengan Roh yang memenuhi Dia, yang datang tidak untuk dilayani melainkan untuk melayani, yang membasuh kaki para murid sebagai tindakan perendahan diri, tindakan yang menunjuk penyerahan diri secara radikal di kayu salib. Hidu sebagai pelayan adalah hidup yang sedia berada di mana yang melayani berada. Yang dilayani adalah Allah, yang sedang menyelamatkan orang-orang; yang dilayani adalah orang-orang yang membutuhkan penyelamatan.

E. Inkulturasi: iman umat aktual-iman rasuli

            Yang berusaha mengerti menghayati Injil Yesus Kristus adalah umat  yang secara jujur bergulat, karena inkulturasi ditentukan oleh gerak umat. Inkulturasi adalah pergulatan kreatif umat setempat untuk menghayati hidup sebagai ciptaan baru  dalam hubungan dengan Kristus yang hidup.

            Pergulatan kreatif tersebut selalu mengundang komunikasi iman aktual umat, yang berada dalam situasi dan kebudayaan konkret dengan kesaksian iman rasuli, yang  pertama-tama terungkap dalam  Kitab Suci dan dihayati  oleh Gereja sepanjang masa sampai saat ini. Dalam pergulatan itu Injil penyelamatan Yesus Kristus  menjadi hidup. Injil tidak hanya meneguhkan, melainkan juga mengkritik kebudayaan manusia manapun juga. Kabar gembira mengundang untuk bertobat dan memasuki hidup baru

RINGKASAN FILSAFAT MANUSIA

Posted in Leonardus on Mei 3, 2022 by Leonardus Ansis

Manusia dalam hidupnya selalu berusaha mewujudkan identitias dirinya. Cara perwujudan diri ini disebut bereksistensi: caranya manusia keluar dari dirinya sendiri untuk menjumpai yang lain  di luar dirinya. Tentang cara berada ini banyak filsuf coba memberikan rumusan masing-masing, dan sudah pasti rumusan yang diberikan pun bermacam-macam. Namun, dalam ringkasan ini kami hanya akan  melihat dua cara berada manusia yang paling umum, yakni: ada-di- dalam-dunia  dan ada-bersama-yang lain. Dua cara berada ini kemudian diterjemahkan dalam dua jenis kehadiran: ada-infra-human berada sebatas berada, dan ada-human berada sejauh hadir. Kehadiran inilah yang mengandung bobot pembeda ini antara  ada-human ada ada-infra-human.

Eksistensia manusia dalam dunia.

            Manusia adalah in-der-welt-sein. Sebagai ada-di-dunia manusia ada di dunia.  Dalam dunia berarti sebagai tempat manusia  bereksistensi dan dunia sebagai pembentuk struktur kemanusiaan subyek manusia yang berkesistensi itu. Hal ini berarti bahwa dunia mempunyai hubungan dasar dan instrinsik dengan manusia, bahwa manusia bukan hanya sekedar ada melainkan hadir. Kehadiran ini berhubungan erat dengan kemampuan manusia untuk mengambil jarak dengan dunianya. Jadi manusia bukan  hanya ada dalam dunia, melainkan manusia itu sendiri ada-di-dunia. Manusia ada di dunia merupakan suatu tuntutan mutlak supaya subyek itu dapat dikatakan sebagai manusia.

            Oleh karena itu, kita akan melihat beberapa cara berada manusia yang menunjukkan kemampuan mengambil jarak itu.

  • Manusia dan tubuh: tubuh adalah dimensi yang pertama dan paling jelas dari manusia. Pada tingkat somatisitas, manusia dapat dibedakan dari ada-infra-human yakni: dalam hal penguasaan manusia atas tubuhnya (mis: dalam bidang kesehatan) dan posisi vertikalnya berarti manusia bisa menguasai gerakan-gerakannya dan juga lingkungannya. Tubuh manusia sendiri mempunyai beberapa fungsi: Fungsi menduniakan manusia, fungsi epistemologis, Fungsi memiliki dan kehadiran, fungsi asketis, fungsi sebagai bahasa dan alat komunikasi, fungsi sebagai tempat ekspresi dari aku, fungsi sejarah.
  • Manusia dan kerja: kerja merupakan aktivitas spesifik yang dimiliki oleh manusia karena tidak ada makhluk lain di dunia ini yang memiliki kemampuan bekerja seperti manusia. Lalu apa sebenarnya defenisi dari kerja? Kerja adalah kegiatan yang dimaksudkan  untuk mempergunakan barang-barang natural atau untuk memodifikasi lingkungan demi pemuasaan kebutuhan-kebutuhan manusiawi. Ada  tiga hal yang tarkandung dalam rumusan ini: 1) ketergantungan manusia pada alam sejauh berhubungan dengan hidup dan kepentingan-kepentingannya. 2)  reaksi aktif dari manusia diperhadapkan pada ketergantungan itu untuk suatu hasil yang berguna. 3) tingkatan tenaga yang kurang lebih dinaikkan, hukuman atau kelemahan, yang membentuk harga atau nilai manusia dari kerja.

Kerja merupakan aspek spesifik dari manusia, namun ada berbagai pandangan baik yang positif maupun negatif tentang kerja itu sendiri. Misalnya dalam pemikiran klasik, Aristoteles menganggap hina setiap pekerjaan yang menekan intelek, kurang menghargai kerja. Dalam pemikiran kristen “juga terdapat penilaian negatif terhadap kerja meskipun sering kerja dianggap sebagai sarana untuk penyucian dan keselamatan, kerja tangan dianggap sebagai pekerjaan  budak…”

Perubahan pemahaman tentang kerja muncul berkat revolusi antropologis, berangkat dari zaman  pencerahan dan pembaharuan protestan. Pada masa ini muncul konsep baru tentang kerja, suatu cara baru dalam menilai pekerjaan, yakni sebagai aktivitas yang penting, dasariah, baik dalam konteks perkembangan manusia pun dalam konteks keselamatan kekal.

  • Pentingnya kerja dalam kehidupan manusia merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa dihindari lagi. Pentingnya kerja kalau dipelajari dalam lintasan sejarah dibagi atas dua: kerja sebagai alat saja dan kerja sebagai aktivitas spesifik dari manusia.
  • Dalam kaitan dengan kerja suatu nilai yang harus diperhatikan adalah kerja untuk manusia dan bukan manusia untuk kerja.

 MAKNA KERJA

       Semua orang harus bekerja, baik tuan maupun hamba, baik majikan maupin buruh. Karena Tuhan sendiri sudah memberikan teladan kepada manusia tentang bekerja,”Enam hari lamanya engkau akan bekerja” (Kej 23:12). Meskipun demikian dalam perkembangan sejarah sering muncul pula pangan negatif tentang kerja, sebagaimana yang dimaksudakan oleh Plato dengan tidak memberikan tempat kepada perbudakan; juga oleh Aristoteles,”yang menganggap hina setiap pekerjaan yang menekan intelek. Beruntung dalam perkembangan selanjutnya  kemudian muncul konsep baru tentang kerja, suatu penilaian baru tentang kerja, yakni sebagai aktivitas  yang penting, dasariah baik dalam perkembangan manusia pun dalam konteks keselamatan kekal. Mengingat penting nilainya kerja ini maka dalam  buku Iman Katolik ditegaskan bahwa,”Dengan bekerja, hidup sendiri mendapat arti. Demi hormat terhadap martabat manusia tak seorangpun boleh dihalangi bekerja;demi harga diri, setiap orang wajib bekerja  menanggung hidupnya sendiri dengan nafkah yang ia peroleh dan mendukung hidup bersama, terutama supaya dengan pekerjaan kita orang lain mendapat kesempatan kerja.[1]

            Kerja itu baik bagi manusia, suatu kebaikan bagi kemanusiaannya, karena melalui kerja manusia bukan hanya mengubah alam sambil menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhannya, melainkan juga merealisasikan dirinya sebagai manusia dan menyempurnakan manusia proyeknya[2]

            Walaupun kerja merupakan suatu unsur berharga dalam perkembangan dan kelangsungan hidup manusia kini kerja itu menjadi beban dalam arti yang lain: irama kerja yang menyediakan ruang hidup itu, hancur. Orang tidak bekerja lagi dalam irama alam  melainkan dalam irama mesin dan di bawah perintah orang lain. Bahkan orang tidak lagi bekerja dalam kebersamaan, melainkan demi merebut  sesuap nasi melawan saingan teman sendiri.

            Meskipun demikian, kami ingin menegaskan sekali lagi bahwa pekerjaan tetap merupakan bagian hidup manusia, bukan sarana mencapai sesuatu tujuan di luar manusia. Membuat pekerjaan menjadi sarana produksi melulu, berarti merendahkan martabat manusia. Juga  dalam masyarakat teknis, yang di dalamnya manusia harus menempatkan diri dalam kerangka produksi yang lebih luas, pekerjaan manusia tetap bernilai, karena manusia sendiri bernilai. Dan ketika manusia tidak lagi menikmati nilai kerjanya secara pribadi dan langsung, maka kita semua harus memberikan perhatian serius soal upah dan kedudukan manusia pekerja itu dalam masyarakat.

            Dalam pekerjaan setiap invidu harus harus dihormati: orang yang bekerja dalam ketergantungan dan tidak bebas memilih pekerjaan perlu dilindungi dan juga para buruh yang sering bekerja tidak sesuai dengan rencana mereka sendiri, kita tetap memberi perhatian dan menghormati orang yang bersangkutan  karena tetap berlaku princip bahwa setiap orang adalah pribadi yang otonom, yang harus dihormati.

            Kita perlu menghormati manusia yang bekerja karena kerja merupakan aktivitas spesifik dari manusia. Karena sebagaimana dikatakan oleh Paus Leo XIII dalam Reru Novarum, khususnya no. 27 dan Paus Yohanes Paulus II dalam Laborem Exercens, khususnya nomor 18, 25, dan 27 dengan bertitik tolak dari Kitab Kejadian bahwa kerja sebagai dimensi dasar dari eksistensi  manusia di atas bumi. Selain itu kerja juga harus dimengerti, dihayati dan dipraktekan sebagai suatu partisipasi pada Salib Kristus, yaitu keselamatan manusia pekerja itu sendiri dan juga kerja itu dimengerti dan  dipraktekan sebagai suatu partisipasi pada kebangkitan Kristus, yaitu kedatangan Kerajaan Allah.

******

RINGKASAN FILSAFAT MANUSIA

            Berbicara tentang manusia selalu menarik, karena realitas yang paling dekat dengan kita adalah  manusia. Sebagaimana dikatakan oleh K. Jung,”rahasia kosmis yang paling besar dan yang paling dekat dengan kita adalah manusia.” Tetapi menjadi  pertanyaan untuk kita adalah siapakah manusia? Untuk menjawab pertanyaan tentu saja kami tidak dapat menyajikan secara tuntas dalam satu halaman ringkasan, akan tetapi ada beberapa hal menarik yang kami uraikan berkaitan dengan siapakah manusia itu.

Manusia mencari identitas

            Banyak ilmu pengatahuan  memberi perhatian kepada manusia dengan coba merumuskan  konsep tentang manusia akan tetapi tidak ada ilmu pengatahuan yang dapat memberikan suatu rumusan atau  konsepsi yang utuh tentang manusia. Yang terjadi ialah masing-masing ilmu pengetahuan hanya memberikan konsep yang fragmentaris tentang manusia; dan hal  ini sebenarnya sudah dikhawatirkan oleh Max Scheler sendiri. Padahal usaha manusia untuk mengenal dirinya sendiri sangat penting, sebagaimana ditegaskan oleh Montaigne,”Manusia yang tidak mengenal dirinya sendiri telah terjurumus ke dalam pelbagai macam kecemasan, keputusasaan, kekuatiran, dan pengalaman negatif lainnya. Apa yang dikatakan oleh Montaigne ini benar, karena apabila manusia hanya mengenal satu dimensi dalam totalitas dirinya dan berusaha mempertahankan maka akan terancam oleh bahaya kompleksitas pengalaman di kemudian hari.

            Oleh karena itu, manusia harus bermenung dan berusaha mengungkapkan rahasia misteri dirinya meskipun masih dalam taraf terbatas. Untuk itu kita akan melihat beberapa rumusan Tentatif tentang Manusia:

Defenisi berdasarkan kodrat religius menusia. Defenisi ini berangkat dari Kitab Kejadian: Manusia adalah imago dei, karena Allah hadir dalam manusia ciptaan-Nya dan Allah menghembuskan nafas hidupNya ke dalam ciptaanNya itu.

Defenisi berdasarkan kodrat/kapasitas karakteristik manusia.

            Pada bagian ini kita akan melihat kodrat karakteristik dalam subjek manusia. Kapasitas pertama dan yang paling masyur  adalah manusia sebagai animal rationale. Plato merumuskan defenisi tentang manusia ini dengan menambahkan kemampuan memperoleh manusia. Kemudian, Thomas Aquinas melanjutkan pemikiran Plato tentang ratio dan menghubungkannya dengan tindakan manusia yang biasanya terbagi atas dua kemungkinan: baik-buruk, kebenaran dan kekeliruan,dll. Ratio selalu mempertimbagan mana yang baik dan buruk. Karena itu, apabila manusia dapat mewujudkan dirinya secara baik, maka bentuk perwujudan itu sesuai kodrat manusia.

Defenisi berdasarkan kemungkinan auto-proyeksi manusia

            Setiap manusia mempunyai kemungkinan untuk memproyeksikan dirinya. Tetapi kemampuan untuk memproyeksikan diri sangat tergantung pada kesadaran manusia akan kemampuan-kemampuan yang ada di dalam dirinya.. Apabila manusia tidak menyadari akan kemampuan-kemampuan itu, maka manusia tidak dapat memproyeksikan dirinya. Pertanyaannya kemampuan-kemampuan apa yang ada pada manusia sehingga manusia dapat memproyeksikan dirinya?

Menurut Aristoteles salah kemampuan manusia adalah ratio.  Dengan kemampuan rational manusia mampu memutuskan sendiri apa yang ingin dibuatnya. Kemampuan untuk  memutuskan secara rational inlah yang membentuk manusia sebagai manusia. Manusia tidak dapat membuat proyek  untuk dirinya sendiri kalau tidak mempunyai untuk memutuskan apa yang harus dibuat untuk dirinya sendiri. Meskipun manusia mempunyai kemampuan untuk memproyeksikan  dirinya, tetapi harus diakui bahwa pasti  ada keterbatasan dalam usaha itu. Karena apa yang hendak dicapai oleh seseorang di masa yang akan datang sebenarnya  sudah dikondisikan pada masa lampau seseorang.

KOMENTAR

Berbicara tentang manusia sangatlah umum dan luas bila dikaji secara mendalam dan mendetail. Sehingga tidak heran bahwa sampai ini ada begitu banyak perbedaan paham tentang manusia itu sendiri. Meskipun demikian beberapa filsuf telah berusaha untuk memberikan satu rumusan dan konsep tentang manusia. Dalam filsafat secara khusus filsafat manusia, manusia yang nyata tetapi sering sangat misteri telah  dikaji secara lebih mendalam dengan segala bentuk perumusan yang berkenaan dengan pengalaman manusia itu sendiri berhadapan dengan dunia sekitarnya.       

Walaupun dalam perumusan konsep tentang manusia  itu ada beberapa yang sudah melengser jauh, bahkan demi menegaskan begitu pentingnya posisi manusia maka Allah disingkirkan untuk sementara. Ada yang beranggapan bahwa kehadiran Allah dan manusia hanya mengganggu dan menghalangi kebebesan manusia. Seperti yang diuraikan dan diungkapkan oleh beberapa filsuf di bawah ini.

Spinoza,” menegaskan bahwa manusia tidak mempunyai substansi atau hekekat sendiri. Yang mempunyai substansi  hanyalah Allah, sedangkan apa yang ada pada manusia bukanlah substansinya sendiri, melainkan hanyalah atribut Allah yang sudah dimodifisikan sesuai kondisi manusia.”

Feuerbach,”demi menegaskan  posisi manusia, maka ia sampai penyangkalan akan Allah. Ia menyangkal Allah untuk menegaskan posisi manusia.” Padahal,  kita  sebagai orang beriman dan berbicara tentang manusia  terlepas dari Allah maka saya berpikir itu sesuatu yang tidak  mungkin. Dan pendapat yang sama atau boleh dikata “lebih gila” lagi yakni apa   yang dikatakan oleh Sastre

Sastre,” menegaskan bahwa Allah sudah mati. Memang Allah dulu pernah berbicara kepada kita, tetapi sekarang Allah itu berdiam diri dan kita menyentuh hanya bangkainya. Sasre berbicara  demikian demi menegaskan kebebasan dan  realisasi diri manusia.bahkan ia menambahkan bahwa kehadiran Allah dan sesama sebagai penghalang kebebasan manusia dan realisasi diri manusia.

            Apa yang dikatakan oleh beberapa filsuf di atas memang berbeda  dengan apa yang saya ketahui selama ini. Saya tidak mengatakan bahwa  apa yang mereka  ungkapkan salah, karena apa yang  mereka ungkapkan mungkin sesuai dengan kondisi mereka pada saat itu.

Namun saya ingin mengajak kita untuk meluangkan sedikit waktu untuk bermenung dan bertanya terus: tentang siapa diri kita? Siapakah manusia? Mungkin jawaban yang kita temukan sering membingungkan kita karena apa yang kita kenal tentang diri kita seperti ini, tetapi orang  lain punya yang lain juga tentang diri kita.  Untuk itu, mungkin jawaban Marcus Aurelius bisa membantu kta untuk untuk memahami siapakah dan apakah manusia? Marcus Aureliusmembantu kita untuk tidak bingung tentang siapakah manusia. Ia mengatakan bahwa kita harus berusaha untuk to master oneself: menguasai diri sendiri atau menjadi tuan bagi diri sendiri. Segala usaha yang dibuat untuk merumuskan manusia dimaksudkan bukan terutama untuk mengetahui atau menambah  pengetahuan manusia tentang manusia tetapi supaya manusia dapat menguasai dirinya sendiri. Jadi tujuan yang dicapai melalui perumusan manusia bersifat personal-moral: untuk menguasai  diri dan mengarahkan manusia itu sendiri. Supaya manusia bisa menguasai dan mengarahkan diri  maka manusia perlu menatap ke depan  sambil menelusuri kehidupan dan keberadaannya, dan tetap membuka diri untuk menerima masukan-masukan yang baik dari orang-orang lain.


 

[1] Bdk.Kwi, Iman Katolik  cet-7 (Yogyakarta: Kanisius dan  Jakarta:Obor, 2000), hlm. 48.

[2] Bdk. J.J. Montolalu, “Filsafat Manusia, “ (Traktat Kuliah  STF-SP), hlm. 2003

Kebebasan Menurut Jean-Paul Sastre (1905-1980)

Posted in Leonardus on Mei 3, 2022 by Leonardus Ansis

Pendahuluan

            Kebebasan adalah hal mendasar dari manusia. Kebebasab merupakan kuasa luhur yang dimiliki manusia. Akan tetapi kuasa yang luhur ini juga membahayakan manusia itu sendiri. kebebasan yang melekata pada manusia itu bisa menghantar dan menuntun manusia kepada kebaikan tetapi bisa juga menuntut manusia kepada hal yang jahat. Nah, menjadi pertanyaan bagi kita apa yang dimaksud dengan kebebasan? Ada berbagai pendapat yang dikemukakan  tentang pokok ini, yang kadang masih menimbulkan problem di antara para ahli sendiri. Meskipun demikian dalam tulisan ini kami ingin memperdalam pandangan Jean-Paul Sastre tentang  kebebasan itu sendiri.

            Jean-Paul Sastre lahir dalam tahun 1905 sebagai Putera dari Jean-Batiste, seorang perwira Angkatan Laut Perancis, dan Anne Marie Schweitzer.

Kebebasan menurut Sastre

            Sastre mengatakan bahwa setiap orang dapat saja menjadikan dirinya sesuai dengan apa yang dipikirkan atau dikehendakinya. Tapi yang sesungguhnya menjadi  tesis paling dasar dari Sastre ialah bahwa manusia mempunyai martabat yang lebih luhur dari sebuah batu atau sebuah meja. Keluhuran terletak pada kehidupan subyektifnya. Berarti bahwa manusia adalah sesuatu yang menggerakkan dirinya sendiri menuju suatu masa depan dan yang sadar  bahwa ia bertindak demikian. Dengan ini Sastre sebetulnya ingin membedakan dua cara  berada yang ia sebut “ada pada dirinya” (being in-itself) dan ada bagi dirinya (being for-itself). “Ada pada diri” bersifat tertutup, pasif, statis dan tanpa kesadaran.  Sedangkan, “ada-bagi dirinya” bersifat terbuka, dinamis, dan dengan kesadaran subyektif. Jadi, bagi Sastre manusia tidak hanya menciptakan sejarahnya sendiri (=diri-nya), melainkan pula bahwa setiap manusia bertanggung  jawab eksistensinya. Sebab bagi Sastre apabila manusia hanya berada  atas salah satu cara entah “ada pada diri” atau “ada bagi dirinya”, maka hal itu tidak mungkin terjadi, karena  apabila manusia hanya berada atas salah cara saja maka manusia akan mengalami keputusasaan.[1]

            Bagi Sastre manusia  bebas, manusia adalah kebebasan. Perkataannya yang sudah menjadi klasik: Manusia dihukum untuk menjadi bebas (Man is condemned to be free). Manusia “dihukum”, karena ia menemukan dirinya terlempar ke dalam dunia, tapi masih bebas karena segera setelah  ia sadar akan dirinya, ia bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dilakukannya. Sastre  menolak pandangan bahwa prilaku manusia sama sekali digerakkan oleh gejolak-gejolak emosi atau gairah  secara mekanistis, walaupun dalam kasus-kasus tertentu hal semacam itu dapat terjadi. Ia juga menolak analisis Freudian tentang prilaku manusia, karena analisis menyajikan alasan yang menguatkan adanya determinisme psikologis, di mana manusia menyembunyikan kebebasan mereka dengan berbagai tipu muslihat.[2] Menurut Sastre, manusia sepenuhnya bertanggung jawab, bahkan terhadap alam rasanya, karena perasaannya justru dibentuk oleh perbuatannya sendiri. kebebasan itu dahsyat dan menakutkan, karena kebebasan berarti tidak ada sesuatu yang menyangga atau menguatkan subyek dari belakang. Dalam kebebasan si subyek berprilaku atas cara apapun, tanpa suatu pola yang secara persis mengingat dan mengarahkan ke masa depan. Dalam kebebasan, satu-satunya hal yang ada ialah eksistensi subyek.  

            Karena itu tidak heran jika Sastre mengatakan: kita sama sekali bebas, karena itu kita harus memilih. Tidak ada aturan-aturan dari moralitas umum  yang dapat menunjukkan kepada kita apa yang harus kita lakukan. Tidak ada pedoman dasar yang menjamin kita dalam dunia. Semuanya harus kita pilih atau tentukan berkat kebebasan.

            Bagi Sastre manusia  bebas, manusia adalah kebebasan. Manusia dihukum untuk menjadi bebas (Man is condemned to be free). Demikian uraian singkat kami tentang kebebasan menurut Jean- Paul Sastre.


[1] Bdk. Frederik A. Dlafson, Sartre, Jean-Paul. Dalam The Encyclopedia of Philosophy. Edit by Paul Edwards. Vol VII (New York: Macmillan Reference USA, 1996).

[2]Ibid,.

Eksistensi Manusia Dalam  Relasi Dengan Ada Tertinggi

Posted in Leonardus on Mei 3, 2022 by Leonardus Ansis

            Yang menonjol dalam konteks relasi dengan Ada  Tertinggi, dalam hubungan kodrat manusia adalah manusia sebagai subyek  yang belum selesai. Manusia masih di persimpangan jalan antara sudah atau belum. Jadi manusia masih menjadi proyek yang perlu diwujudkan dan disempurnakan.

            Perwujudan diri manusia menjadi tanggung jawab manusia dalam relasi dengan Ada Tertinggi. Dalam hubungan dengan Ada Tertinggi sambil memproyeksikan  diri ke masa depan, subyek manusia disertai dengan pengalaman positif dan negatif. Kesatuan dengan Ada Tertinggi oleh para pemikir Teistis dimengerti sebagai kesatuan partisipatif:  subyek-manusia  yang bersatu dengan Ada Tertinggi mengambil bagian dalam kesempurnaan dan kebahagiaan Ada Tertinggi. Sedangkan pemikir ateistis:  kesatuan itu dimengerti sebagai suatu penggantian posisi: pada waktu subyek manusia naik ke kesatuan dengan Ada Tertinggi ini harus diturunkan dari tahta-Nya, supaya subyek-manusia dapat duduk pada tahta itu.

            Pengalaman negatif partisipatif menunjuk pada kegagalan, penderitaan, kekecawaan, keputusasaan. Sedangkan, pengalaman positif menunjuk pada kegembiraan, keberhasilan, pengharapan. Tetapi kedua pengalaman masih bersifat sementara. Pengalaman positif berdasarkan pemahaman bahwa secara asli manusia itu baik adanya, meskipun demikian ini bukanlah kondisi final dari subyek-manusia. Karena manusia selalu dalam kondisi mencari: yang mungkin jatuh pada pengalaman negatif dan dilanjutkan dengan mencari jalan pulang, atau pengalaman positif yang dilanjutkan dengan usaha mencari lebih.

Manusia dan roh.

            Menurut beberapa filsuf roh adalah hakekat esensial dari keberadaan manusia. Karena itu, manusia tidak lain adalah roh. Sedangkan filsuf lain: berpendapat bahwa roh bukanlah hakekat esensial melainkan hanya aksidental, yaitu sebagai efinomena dari ketubuhannya.

            Tentang hakekat-spiritual, dapat disebutkan bebarapa pandangan sebagai berikut: (a)  Tradusianisme:  asal usul roh dari anak-anak ditarik dari roh orangtua. (b) Emanasi dari Ada Tertinggi. (c) penciptaan serentak  dari semua roh sebelum atau bahkan pada waktu yang sama dengan penciptaan dunia. (d) Penciptaan individual dan terpisah dari setiap roh dari pihak Allah pada waktu pembentukan tubuh. (e) evolusi materi.

Teori pengasal-usulan kemudian dibagi atas teori emanasi: teori yang menerangkan pengasal-usulan segala sesuatu, semua hal dari satu-satunya princip spiritual dengan perantaraan ekspansi dan ramifikasi spontan. Penciptaan: berarti pengadaan sesuatu yang sebelumnya belum dan tidak ada dalam satu cara apapun, baik dalam dirinya sendiri pun dalam kemungkinannya.

Manusia dan kebebasan

            Kebebasan dimengerti sebagai ketiadaan paksaan. Kebebasan dibagi atas: kebebasan fisik, moral, psikologis, politik dan sosial. Akan tetapi  kebebasan masih menimbulkan masalah. Dalam pemikiran kristiani, nasib tidak diakhui dan sebagai ganti diakui Allah, Bapa  Penyelenggara dan penuh cinta. Allah sendiri mewahyukan kepada manusia  bahwa ada pilihan bebas. Dalam periode patristik dan abad pertengahan: kebebasan adalah suatu  pertanyaan tentang hubungan antara manusia dan Allah. Sedangkan dalam pemikiran modern: kebebasan tidak lagi dalam hubungan dengan Allah, melainkan dalam hubungan dengan kemampuan lain dan dengan masyarakat.

            Terhadap pandangan-pandangan di atas ada dua pemecahan deterministik yang menyangkal kebebasan: deteminisme ekstrinsik mitologis dan teologis. Yang petama, menolak kebebasan manusia karena alasan mitologis, misalnya nasib yang menghalangi manusia untuk menjadi tuan atas diri sendiri. Kedua,  kebebasan ditolak karena alasan teologis: kemahakuasaan Allah tidak memberi satu ruangpun,  pada kebebasan manusia.

            Pemahanan yang lebih mendalam tentang masalah kebebasan coba dibahas,  misalnya oleh Origenes: menurutnya putusan bebas membentuk esensi  makhluk berakalbudi: tak sorangpun dapat dipaksa untuk bertindak. Imanuel Kant: merumuskan kebebasan sebagai kekhasan kehendak untuk memberi hukum pada  dirinya sendiri.

Kodrat kebebasan

Thomas dan beberapa pengarang lain membedakan dalam tindakan bebas 3 saat utama: pembebasan, putusan, pilihan. Yang dimaksudkan dengan “pembebasan” adalah tahap eksplorasi, penelitian sekitar obyek yang hendak dicapai atau tindakan yang hendak dilakukan. Pada tahap ini orang harus tahu apa yang harus dibuat dan meneliti tindakan yang hendak dilaksanakan atau dicapai. Yang dimaksud dengan putusan adalah: tahap penilaian. Setelah  kita memperoleh informasi  yang cukup kita kemudian membuat penilaian dan membuat putusan, tetapi putusan itu harus bersifat praktis dalam arti harus bernilai untuk saya. Setelah  kita sampai pada keputusan ini maka kita akan membuat pilihan; jadi, yang dimaksud dengan pilihan adalah putusan.

Eksistensi Dalam Relasi Dengan Sesama Manusia

Posted in Leonardus on Mei 3, 2022 by Leonardus Ansis

Pembentukan kepribadian  kita turut tergantung pada kehadiran orang lain. Di sini kita melihat kehadiran sesama itu penting  karena kehadiran sesama  menjadi unsur pembentuk keberadaan dan kehidupan seseorang. karena itu hubungan antara manusia merupakan hubungan yang sangat mendasar. Jadi, tanpa hubungan itu manusia tidak dapat mewujudkan dirinya seutuhnya. Tapi supaya hubungan menjadi  mungkin, maka kita harus sadar bahwa kita berbeda dengan orang lain; keberadaan dan kehadiran orang lain harus dipertahankan dan terus-menerus diakui.

IIC.1. Manusia dan bahasa.

            Manusia bicara, karena bicara sudah dikodratkan bersama manusia.berbicara bisa jalan apabila orang masuk dalam komunikasi dengan orang lain dan dalam komunikasi itu bahasa digunakan sebagai sarana komunikasi. Bahasa dapat didefenisikan sebagai aktivitas, dengan mana manusia dengan perantaraan tanda vokal pun tertulis, menempatkan dirinya dalam suatu komunikasi dengan sesama (atau Allah) untuk mengungkapkan perasaan sendiri, keinginan-keinginan atau pengetahuan–pengetahuan sendiri. Dalam bahasa ada 3 unsur esensial yang bisa dikemukakan: 1) subyek yang berbicara. 2) obyek pembicaraan. 3) teman bicara pada siapa dan dengan siapa seseorang berbicara dan mau berkomunikasi sambil bicara.

IIC.1a. Fungsi utama bahasa: bahasa mempunyai beberapa fungsi, yaitu a) fungsi deskriptif: bahasa berfungsi untuk melukiskan dan memberikan pengetahuan tentang barang yang hendak diketahui; untuk memberikan penjelasan, ketepatan dan obyektivitas.b) fungsi komunikatif: secara esensial bahasa dimaksudkan sebagai alat atau sarana dengan mana manusia menemptkan dirinya dalam hubungan dan komunikasi dengan yang lain. c) fungsi ekspresif: yang dimaksud dengan fungsi ini adalah fungsi eksistensinya. Bahasa berfungsi untuk memberi kesaksian, tapi bukan kesaksian yang kabur, tidak tentu, melainkan suatu kepastian yang pasti.d) fungsi ontologis: dikemukakan oleh Heidegger dan yang dimaksudkan adalah bahasa asli, yaitu bahasa dengan mana Ada berbicara  dan menunjukkan dirinya sendiri dalam hal-hal lain.

IIC.1b. Hubungan antara bahasa dan pikiran.

            Dalam perkembagan filsafat  bahasa, terdapat  2 pandangan tentang hubungan antara bahasa dan      pikiran. Ada yang berpendapat bahwa ada pembedaan jelas antara bahasa dan pikiran sambil memberikan prioritas kepada bahasa atau kepada pikiran, sedangkan ada yang melihat kesatuan antara keduanya. Meskipun   demikian kita bisa melihat hubungan antar keduannya: secara asli berpikir sama sekali tidak dapat dipisahkan dari berbicara dan mengartikan maksud yang dalam bunyi linguistik.

IIC2. Manusia dan budaya

            Bila kita menelusuri dari sejarah dan istilah ‘budaya’ maka dikemukakan tiga arti dan tiga penggunaan  utama: a) egaliter: dikenakan pada kuantitas pengetahuan. Lebih banyak pengatuan yang diketahui seseorang lebih berbudayalah orang itu.b)Pedagogis: dikenakan pada  pendidikan dan pembentukan manusia, dalam arti suatu proses pematangan dan perwujudan kepribadian seseorang. c) Antropologis: dikenakan pada  kumpulan kebiasaan, teknik dan nilai, yang membedakan  kelompok sosial yang satudari yang lain, kelompok adat dan  bangsa yang satu dengan kelompok adat dan bangsa yang lain.

Dalam perkembangan filsafat sendiri terdapat perbedaan pandangan: 1) filsafar klasik: menerima manusia sebagai ada natural. Hidup dan bertindak menurut alam, itulah yang menjadi tuntutan dan perintah yang harus dilaksanakan dalam filsafat klasik. 2) filsafat moderen:  pemikir modern melihat manusia bukan sebagai suatu hasil dari alam sebagai produk dirinya sendiri. ahli bangunan manusia adalah manusia itu sendiri. untuk itu, jalan  tengah yang bisa dikemukakan untuk mengantarai ekstrim naturalisme dan historisisme  adalah manusia adalah ada kultural:  artinya manusia adalah sebagian adalah hasil alam dan sebagian adalah hasil  sejarah. Campuran antara alam dan  sejarah inilah yang disebut budaya.

Ada beberapa unsur konstituf utama dari budaya sebagai bentuk spiritual:

a) Bahasa: perlu dibedakan dua arti bahasa. Pertama, bahasa sebagai kemampuan yang secara natural diberika kepada manusia. Kedua, bahasa sebagai suatu sistem tertentu dari tanda-tanda linguistik dari suatu kelompok sosial untuk  mewujudkan komnikasi di antara mereka.        Dapat ditarik 3 kesimpulan sehubungan dengan hubungan antara bahasa dan budaya: a)budaya suatu kelompok sosial mulai pada waktu kelompok itu menemukan bahasanya. b) bahasa berkembang bersama-sama dengan budaya. c) budaya sebagi jiwa suatu bangsa, bercermin dalam bahasa.

b. Adat-kebiasaan: bahasa saja tidaklah cukup untuk mengasal-usulkan suatu budaya tertentu, unsur lain yang cukup penting adalah: adat-kebiasaan. Dengan perantaraan adat-kebiasaan  diperjelas aspek penting dari budaya, yakni aspek afektif. Aspek afektif nampak dalam adat-istiadat  adat-istiadat inilah yang  mengangkat kemuliaan suatu bangsa, keterbukaan untuk berdialog atau sebaliknya, egoisme, kekerasan atau toleransi, kesahajaan.

c. Teknik:  A. Lalande, memberi defenesi tentang teknik sebagai” keseluruhan dari proses-proses yang didefenisikan dengan baik dan dapat disebarkan, yang semuanya ditujukan untuk menghasilkan  hasil-hasil tertentu yang dianggap perlu”. Teknik dirancang oleh manusia untuk menghadapi dan menjawab kebutuhan-kebutuhannya. Dengan demikian jelas bahwa teknik menempati posisi yang juga penting dalam budaya.  

d. Nilai: setiap bangsa memiliki suatu kesadaran akan nilai. Nilai yang paling utama adalah hidup itu sendiri. akan tetapi ada perbedaan pendapat  tentang nilai. Ada yang berpendapat bahwa nilai tidak dimasukkaan sebagai salah satu unsur konstitutif di antara unsur-unsur yang lain dari budaya. Yang lain berpendapat nilai adalah satu-satunya unsur yang membentuk budaya. Ada kebenaran dari  tesis ini bahwa nilailah yang memberikan kesatuan dan ketetapan pada budaya. semua ekspresi kultural entah politik, seni agama, sastra dlsb, semuanya mengacu pada satu nilai fundamental yang hendak diolah dan diinkarnasikan oleh suatu budaya.

SINODE GEREJA KATOLIK AMBOINA SEBAGAI RUANG PUBLIK: Revitalisasi Misi dan Pelayanan Gereja Keuskupan Amboina

Posted in Leonardus with tags on September 7, 2019 by Leonardus Ansis

Penulis : RD. Costan Fatlolon

RD. Costan Fatlolon Imam Keuskupan Amboina yang sedang menyelesaikan program Doktoral Filsafat di Ateneo de Manila University. Beliau adalah mantan Sekretaris Keuskupan Amboina.

Pendahuluan

Pada tanggal 9-15 September 2019, para imam dan kaum awam terpilih dari seluruh wilayah gerejani Keuskupan Amboina akan berkumpul di Ambon untuk mengadakan Sinode ketiga dibawah bimbingan Uskup Diosis. Tulisan ini hadir sebagai sebuah ungkapan “kehendak untuk berpartisipasi” (the will to participate) dari seorang Imam Keuskupan dalam kegiatan rohani tersebut.

Tujuan utama tulisan ini adalah memberikan kontribusi teoretis bagi Sinode Keuskupan dari perspektif filsafat, dengan berefleksi pada agama dalam ruang publik. Untuk maksud tersebut, kerangka teoretis filsafat politik Jürgen Habermas (1929-Sekarang) mengenai ruang publik akan digunakan sebagai alat analisis.

Gagasan utama yang hendak dipertahankan dalam tulisan ini adalah Sinode merupakan ruang publik rohani yang lahir dari kekuatan Roh Kudus, dan mewujudkan dimensi inkarnatoris-Partisipators Ilahi Yesus Kristus dalam dunia. Maka revitalisasi misi dan karya Gereja Keuskupan Amboina mengandaikan sikap terbuka kepada “suara-suara Roh yang tak terucapkan dalam diri umat Allah.” Keterbukaan itu mewujudnyata dalam program-program yang menyentuh kelompok marginal dalam Gereja. Dengan cara ini misi dan karya Gereja Keuskupan Amboina akan semakin mewujudkan dirinya sebagai Gereja mandiri di tengah dunia.

            Untuk membahas tema ini, saya akan memulai dengan menjelaskan usaha Habermas untuk merevitalisasi agama di ruang publik. Kemudian, saya akan menjelaskan pemahaman Habermas mengenai ruang publik. Pada bagian ketiga saya akan menjelaskan apa arti Sinode Keuskupan Amboina sebagai ruang publik. Bagian berikutnya akan secara khusus menyoroti fungsi pemimpin dalam seluruh proses Sinode sebagai ruang publik. Tulisan ini kemudian akan menyoroti faktor-faktor yang mungkin akan menghalangi implementasi hasil Sinode. Tulisan ini akan ditutup dengan sebuah refleksi penutup tentang revitalisasi misi dan pelayanan Gereja Keuskupan Amboina.

Revitalisasi Agama di Ruang Publik

Sejak awal masa modern, keberadaan dan peranan agama sudah menjadi perdebatan serius di antara para ahli. Sebagian ahli tetap meyakini bahwa agama memainkan peranan penting bagi kesejahteraan umum. Namun, sebagian ahli memandang agama sebagai sebuah warisan masa lalu yang lebih bersifat privat (Dreyer and Pieterse, 2010:1).

Pandangan terakhir ini bisa dilacak dalam jejak awal pemikiran Habermas. Sebagai penerus cita-cita Masa Pencerahan, yang menekankan subyektivitas (rasionalitas) dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, Habermas sejak awal mencurigai agama sebagai penyebab alienasi sosial. Ia lalu berusaha mengatasi peranan agama melalui perangkat teori rasionalisasi masyarakat dengan orientasi praxis (pembebasan). Namun, dalam perjalanan karier filsafatnya, Habermas kemudian merevisi pandangannya sendiri setelah menyadari bahwa keberadaan dan peranan agama tidak layu ditelan modernitas.

Dalam karyanya The Future of Human Nature (2003) dan Between Naturalism and Religion (2008), Habermas mengungkapkan keyakinannya bahwa agama tidak boleh dibatasi pada ranah privat. Agama memainkan peranan penting di ruang publik dengan bantuan ajaran-ajaran dan tradisi-tradisi pendiriannya untuk memperbaiki intuisi moral masyarakat. Salah satu tuntutan Habermas adalah agama harus mampu melaksanakan “imperatif penerjemahan” (imperative translation), yaitu kemampuan agama-agama sebagai institusi rohani untuk menerjemahkan dan mengungkapkan wawasan keagamaan mereka ke dalam “bahasa yang dapat dipahami oleh publik” ketika terlibat dalam ruang publik (Habermas, 2008:113).

Penekanan utama Habermas sebagai filsuf, yang menyebut dirinya sebagai “agnostik, sekular, dan tuli terhadap agama” ini, adalah bahwa agama-agama modern harus mampu mengatasi menara gading wawasan keagamaannya sendiri yang bersifat partikular melalui nalar diskursif dalam ruang publik. Dengan gagasan sentral ini, Habermas menempatkan agama secara tepat pada konteksnya serta merevitalisasi keberadaan dan peranan agama di ruang publik (public sphere).

Pengertian Ruang Publik

Apakah yang dimaksudkan oleh Habermas dengan istilah ruang publik? Istilah ruang publik merupakan sebuah rekonstruksi Habermas terhadap pemikiran yang diusung oleh Hannah Arendt (1906-1975). Filsuf wanita Amerika berdarah Yahudi ini memahami ruang publik sebagai sebuah “dunia bersama” (common world) dimana semua orang dapat berkumpul bersama dan tidak menjatuhkan satu sama lain. Habermas kemudian merekonstruksi pemahaman ini dengan polesan pengertian yang baru.

Dalam karyanya The Structural Transformation of the Public Sphere (1989), Habermas mengungkapkan bahwa ruang publik merujuk pada aktor-aktor personal dalam masyarakat yang hadir secara bersama-sama sebagai sebuah publik untuk menggunakan akal budi mereka secara kritis. Dalam arti ini, ruang publik hadir sebagai sebuah masyarakat politis yang secara kritis menyuarakan dan menganalisis, bahkan kadang menentang, tindak-tanduk pemerintah atau pihak penguasa yang mengandalkan kekuasaan untuk memerintah sebuah komunitas, masyarakat, atau negara (Habermas, 1989: 2).

Yang menjadi penekankan utama Habermas adalah bahwa sebuah ruang publik merupakan wilayah dimana setiap anggota masyarakat dizinkan untuk menyatakan tindak-tanduk dan pendapat mereka secara bebas melalui kekuatan komunikasi dan argumen. Dalam karya monumentalnya yang terakhir Between Fact and Norms (1996). Habermas mengatakan,

The public sphere can best be described as a network for communicating information and points of view (i.e., opinions expressing affirmative or negative attitudes); the streams of communication are, in the process, filtered and synthesized in such a way that they coalesce into bundles of topically specified public opinions (Habermas, 1996: 360).

Pernyataan Habermas ini menunjukkan bahwa ruang publik adalah praksis komunikasi hidup harian dimana warga masyarakat dapat secara terbuka menyatakan, mendiskusikan, dan memberikan masukan mengenai masalah-masalah sosial. Fungsi utama dari ruang publik adalah memberikan ruang kepada masyarakat untuk meringankan beban pengambilan keputusan dan menghentikan sementara proses pengambilan keputusan yang menjadi tanggung jawab institusi-institusi publik.

Sinode Keuskupan sebagai Ruang Publik

Dalam konteks Keuskupan Amboina, Sinode ke-3 yang dilaksanakan saat ini dapat dipandang sebagai sebuah ruang publik dimana terjadi praksis komunikasi antara para iman dan kaum awam terpilih dari wilayah-wilayah gereja partikular dengan Uskup sebagai gembala utama, penanggung jawab utama kegembalaan dan kehidupan rohani umat. Tetapi juga, Sinode ini merupakan ruang publik dimana terjadi komunikasi antara pihak Gereja Katolik dengan Pemerintah Daerah (Pemda) pada semua tingkatan dan lembaga-lembaga manusiawi lainnya.

Fungsi sidang Sinode sebagai ruang publik adalah membantu memberikan konsultasi kepada pemerintah (provinsi, kabupaten, kota), dan teristimewa Uskup Diosis, melalui masukan dan pelbagai isu yang menjadi pergumulan umat beriman. Proses konsultasi dalam rapat-rapat itu sesungguhnya meringankan beban dan menangguhkan sementara proses pengambilan keputusan para pejabat dimaksud sehingga apa yang akan menjadi keputusan akhir menjadi juga hasil legislasi dan keputusan semua pihak.

Dalam bidang politik, Habermas mengatakan, biasanya pengaruh politik yang didukung oleh pandangan publik dapat mempengaruhi keyakinan-keyakinan tertentu mengenai sistem-sistem politik dan aktor-aktor politik. Pada tataran ini, pandangan publik dapat berfungsi sebagai sebuah potensi politik yang dapat digunakan untuk mempengaruhi perilaku voting dari anggota masyarakat, atau pembentukan kehendak dalam tubuh parlemen, badan-badan administratif, dan pengadilan.

Namun, Habermas memberikan catatan penting yang perlu diperhatikan secara serius. Ia mengatakan, “Sebagaimana kekuatan sosial, pengaruh politik atas dasar pandangan publik dapat diubah menjadi kekuatan politik hanya melalui prosedur-prosedur yang terinstitusionalisasi” (Habermas, 1996: 363). Dengan kata lain, Habermas mengingatkan bahwa sebuah pandangan publik baru menjadi sebuah kekuatan politik ruang publik apabila pandangan tersebut merepresentasi dan “mentematisasikan masalah-masalah sosial… di antara mereka yang berpotensi terkena akibatnya” (Habermas, 1996: 365).

Katakanlah, sebagai contoh, pandangan publik (umat Katolik) dalam ruang publik (Sinode Keuskupan Amboina) menemukan bahwa salah masalah bidang diakonia adalah kemiskinan ekonomi. Instrumentum Laboris Sinode Keuskupan Amboina (2019: 52, point ke-3) menyatakan: “Minimnya pengetahuan dalam mengelola keuangan keluarga dan adanya pola hidup konsumtif dan boros/tidak minat menabung.”

Menurut kerangka pemikiran Habermas, isu kemiskinan akan tetap menjadi pandangan publik, dan Sinode Keuskupan Amboina akan tetap menjadi ruang publik semata-mata, dan tidak akan pernah menjadi sebuah kekuatan ruang publik politik, apabila tidak disalurkan melalui prosedur yang diakui secara legal, misalnya penyerahan dan pembicaraan hasil Sinode dengan Gubernur/Bupati/Walikota, atau dengan DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota, dan institusi-institusi resmi terkait.

Hal yang sama berlaku juga secara khusus untuk tingkat Keuskupan Amboina sendiri. Instrumentum Laboris Sinode Keuskupan Amboina (2019: 36, point ke-7) menyatakan bahwa salah satu realitas masalah dalam bidang liturgi adalah “Kurangnya kunjungan Pastor dan dewan gereja kepada umat.” Atau dalam bidang koinoni, Instrumentum Laboris (2019: 24, point ke-1) menyatakan salah satu problem dalam manajemen pastoral adalah “Masih terdapat kepemimpinan sentralisitk atau ‘pastor sentris’ (berpusat pada pastor paroki). Hal tersebut mengakibatkan terjadinya ketergantungan penuh terhadap pastor paroki. Ada kesan bahwa arah manajemen pastoral tergantung sepenuhnya pada pastor paroki.”

Isu-isu aktual-problematis di atas telah ditemukan oleh Tim Sinode melalui proses komunikasi di ruang publik (umat rukun, wilayah, kategorial) melalui tindakan komunikatif atau prosedur diskursus yang disebut sebagai focus-group discussions. Kini, masalah-masalah tersebut harus dibicarakan secara bebas, fair dan transparan selama proses rapat komisi-komisi dalam ruang publik yang lebih resmi, yakni Sinode Keuskupan. Hal ini dimaksudkan agar Uskup sebagai penanggung jawab utama dapat mempertimbangkan dan mengambil keputusan yang bijaksana mengenai masalah-masalah tersebut.

Sebagian orang mungkin saja mengkritik pandangan Habermas dengan argumentasi bahwa Sinode bukan sebuah perhelatan politik tingkat parlementer. Namun, Habermas tidak memiliki kecenderungan ke ranah tersebut. Esensi pemikiran Habermas adalah sebuah ruang publik harus mampu menyuarakan keprihatinan warga. Hal ini sesuai dengan tuntutan dokumen-dokumen Konsili Vatikan II.

Sinode sebagai sebuah tindakan persekutuan gerejani tak lain adalah usaha untuk memupuk persaudaraan anak-anak Allah. Semua opini umat (publik) dalam sidang Sinode harus juga diarahkan demi kemajuan, perkembangan dan keharmonisan universal umat manusia. Bukan saja itu. Melalui sidang Sinode ini juga diharapkan mampu “menyembuhkan dan mengangkat martabat pribadi manusia, dengan meneguhkan keseluruhan masyarakat manusia, dan dengan memberi makna dan arti yang mendalam kepada kegiatan manusia” (GS 40).

Sidang Sinode tidak akan menjadi sebuah tindakan politik parlementer sejauh dibangun atas dasar kesadaran misi Gereja mewartakan keselamatan dalam tataran rohani-spiritual-moral. Gereja Keuskupan Amboina yang mengemban misi perutusan Kristus secara universal harus menyatakan dirinya sebagai komunitas kaum beriman yang terbuka, inklusif, siap berdialog dan bekerja sama dengan siapa saja yang memiliki komitmen terhadap kemanusiaan universal untuk memperjuangkan kebaikan bersama (bonum commune).

Politik sebagai Tindakan Komunikatif-Inkarnatoris

Habermas menyadari bahwa semua pandangan politik ruang publik tidak dapat dengan sendirinya kuat berhadapan dengan sistem politik yang terlembagakan secara resmi. Ada ruang publik politik yang lemah (weaker political public sphere) dan ruang publik politik yang kuat (strong political public sphere). Para pelaku politik ruang publik yang lemah kadang tidak dapat berbuat banyak ketika berhadapan dengan para pelaku dalam sistem politik. Tak dapat dinafikkan pula, pandangan publik yang lemah sering kali dimanipulasi oleh pelaku sistem politik melalui kekuatan dua subsistem modern saat ini, yakni kuasa (power) dan uang (money).

Istilah “politik” dalam kerangka pemikiran Habermas harus dipahami secara tepat. Kita akan salah jika memahami istilah politik dalam kerangka pemikiran lama, yaitu sebagai kesempatan untuk merebut kekuasaan. Habermas menolak gagasan politik lama ini. Sudah sejak terbitnya karya momumental The Theory of Communicative Action, Habermas menegaskan bahwa seiring munculnya gerakan-gerakan demokrasi yang dimotori oleh kaum buruh, pekerja, pegawai, gerakan politik modern lebih “menuntut revitalisasi kemungkinan berekspresi dan berkomunikasi [tanpa distorsi] yang telah dikubur hidup-hidup” (Habermas, 1987: 395).

Pandangan yang sama diradikalkannya melalui Between Facts and Norms yang secara khusus menyoroti teori hukum dan demokrasi deliberatif. Habermas mengatakan dalam negara-negara demokrasi modern, istilah politik lebih merujuk pada sebuah pendekatan inklusif dan fair melalui tindakan komunikatif dan diskursus. Kekuasaan dalam sistem demokrasi modern berarti pemerintahan dari yang dipimpim. Hal ini termanifestasi melalui tindakan aktif warga dalam masyarakat sipil dimana semua kepentingan dan koflik kepentingan diatasi oleh pemerintah yang sah melalui kekuatan komunikasi dan argumentasi rasional dengan mendengarkan pandangan-pandangan dari komunitas-komunitas basis atau kelompok akar rumput. Melalui komunikasi antar warga masyarakat dan pemerintah kita dapat menemukan bagaimana penetapan sebuah sirkulasi kekuasaan secara konstitusional (Habermas, 1996: 354-355).

Politik Gereja bukanlah politik kekuasaan melainkan politik kesejahteraan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa umat manusia (salus animarum suprema lex). Pengejawantahan politik Gereja ini terjadi melalui politik inkarnasi Yesus dalam dunia. Gereja Semesta kemudian menegaskan pendiriannya sebagai bunda yang berinkarnasi dengan senantias merasakan suka cita dan duka cita semua manusia di segala zaman. Dalam konteks inilah, Gereja memainkan komunikasi politik sebagai sarana untuk mewjudkan misinya dalam dunia, termasuk dalam proses pengambilan keputusan melalui Sinode.

Menurut Habermas, proses pengambilan keputusan oleh ruang publik yang lemah dan politik yang kuat dalam sistem politik “harus dikendalikan oleh komunikasi irisan-irisan, dan jika perlu, keluar melalui implementasi administratif” (Habermas, 1996: 356).  Maksud Habermas adalah mereka yang berada pada pusat sistem politik, seperti DPRD atau kehakiman, atau Uskup dan Kuria, dan lembaga-lembaga gerejani terkait lainnya, seperti Ketua Puspaskup/ Puspaswil, bertanggung jawab untuk mengecek setiap masukan dari kelompok-kelompok lemah dalam ruang publik, kemudian mempertimbangkan secara bijaksana, dan membuat keputusan politik yang menyentuh kepentingan semua pihak.

Fungsi Pemimpin Bagaikan “Penampung Air”

Pertanyaan yang kemudian muncul ialah bagaimana proses sirkulasi komunikasi antara warga dan pemimpin dapat dilaksanakan? Habermas mengintroduksikan sebuah model komunikasi antara pihak pinggiran dan pusat, yang disebutnya dengan nama “model penampung air” (dam model, Schleusenmodel). Model komunikasi ini merupakan tempat yang menyaring semua informasi, tema-tema, dan kontribusi-kontribusi dari kelompok pinggiran yang berjuang untuk mendapatkan pengakuan politik. Peranan ini, kata Habermas, tidak didasarkan pada suka atau tidak suka melainkan semata-mata berdasarkan prinsip-prinsip konstitusi (Habermas, 1996: 357-358).

Lembaga-lembaga publik seperti Pemda, DPRD atau kehakiman, atau Uskup, Kuria Keuskupan, serta Puspaskup dan Puspaswil, harus berperan sedemikian rupa sehingga semua keputusan yang dilaksanakan tidak berdasar pada keinginan sang pemimpin, atau pada kedekatan pemimpin dengan pribadi dan kelompok tertentu. Sebaliknya, semua lembaga itu harus mampu menangkap, menginterpretasikan, dan menyajikan masalah-masalah masyarakat atau umat secara tepat dan inovatif berdasarkan konstitusi. Dalam bahasa gerejani, semua masukan umat harus dianggapi dan diorganisir secara bijaksana berdasarkan tata hukum kanonik.

Kerangka filosofis Habermas ini sangat inspiratif untuk memahami fungsi pemimpin dalam konteks Sinode Gereja Katolik. Habermas seakan mengingatkan para pemimpin institusi rohani di Keuskupan Amboina bahwa mereka bukan pemilik kebenaran. Alih-alih bersifat filosofis, Habermas menegaskan lagi peranan Gereja sebagai pembagi rahmat Ilahi bagi seluruh umat Allah.

Gereja adalah bunda, yang melalui kuasa Roh Kudus dan sakramen-sakramen ilahi, senantiasa mendengarkan dengan setia dan membuka hati bagi kebutuhan-kebutuhan putra-putrinya. Gereja bukan lahir di atas kekuasaan dan menjadi penguasa. Gereja adalah sarana keselamatan, yang menimba kekuatan dari Roh Kudus melalui Sabda dan Ekaristi, dan menyalurkan air kehidupan rohani itu kepada seluruh umat beriman.

Sinode ini menjadi momentum refleksi kritis bersama bagaimana Gereja Katolik Keuskupan Amboina sebagai seorang bunda rohani mendengarkan keluhan semua anaknya dan menjawab kebutuhan mereka secara tepat dan bijaksana dengan segala kekuatan dan kelemahan institusionalnya.

Tetapi jauh lebih fundamental adalah sidang Sinode ketiga ini menjadi momentum rohani bagi seluruh umat Keuskupan Amboina untuk kembali kepada jati diri Gereja otentik yang bersifat pneumatis. Sebab Gereja tidak dibangun atas dasar keinginan dan kekuatan manusiawi melainkan lahir, ada, dan terus berkarya di bawah kuasa Roh Kudus Allah sendiri.

Tantangan-Tantangan Implementasi Hasil Sinode

Habermas mengatakan bahwa untuk melaksanakan demokrasi deliberative di ruang publik, masyarakat-masyarakat demokrasi modern menghadapi tiga tantangan mendasar. Pertama, “ketegangan internal antara faktisitas dan validitas.” Faktisitas adalah fakta adanya tuntutan dari norma-norma hukum, misalnya hukum kanonik, yang mengharuskan seseorang bertindak sesuai dengan norma-norma tersebut. Tetapi dalam kenyataannya, norma-norma itu tidak ditaati oleh para anggota masyarakat. Di lain pihak, ada juga norma-norma yang menuntut bahwa musti ada dasar legitim untuk pemberlakuan sebuah norma, atau mengapa sebuah hukum harus ditaati.

Peringatan Habermas ini penting bagi pimpinan Keuskupan Amboina untuk mengantisipasi bagaimana implementasi hasil-hasil Sinode. Penekanan utama ialah Habermas mengingatkan agar apa yang menjadi keputusan sidang Sinode tidak bertentangan dengan dogma dan norma-norma hukum kanonik Gereja Katolik. Apabila ini terjadi maka akan terjadi apa yang disebut Habermas sebagai “ketegangan internal” dalam Gereja Katolik itu sendiri.

Selain itu, Habermas mengingatkan kita bahwa bisa terjadi bahwa semua orang setuju dengan hasil-hasil yang dipromulgasikan, namun tidak semua orang melaksanakan hasil-hasil itu karena memiliki argumentasi lain tentang dasar legitimasi hasil-hasil sinode. Dasar legitimasi itu, kata Habermas, adalah apakah proses pengambilan keputusan Sinode dilaksanakan berdasarkan proses deliberasi atau proses procedural komunikatif ataukah diputuskan atas dasar kekuasaan.

Kedua, “ketegangan eksternal antara norma-norma konstitusi atau ajaran dengan fakta sosial yang kurang sesuai dengan norma-norma tersebut.” Uskup sebagai kenanggung jawab utama Keuskupan harus mengantisipasi kemungkinan lembaga-lembaga gerejani yang membantunya tidak melaksanakan hasil-hasil Sinode dengan semestinya. Hal ini bisa terjadi karena pemahaman-diri yang bertentangan dengan dogma dan norma-norma hukum kanonik. Penafsiran pribadi yang salah mengakibatkan pengkhianatan institusional terhadap amanat Sinode itu sendiri.

Bisa juga terjadi, kata Habermas, lembaga-lembaga yang seharusnya melaksanakan amanat konstitusi tidak dapat bekerja semestinya karena tekanan oleh kuasa yang lebih tinggi, dan praktek patronasi dan sistem klien pada tingkat birokrasi. Secara sederhana, ketidakmampuan mengimplementasikan hasil-hasil Sinode terjadi karena sistem kolusi atau nepotisme oleh oknum-uknum yang dipercayakan Uskup sebagai pemimpin pada tingkat birokrasi kelembagaan keuskupan.

Saya sendiri lebih melihat pandangan Habermas sebagai sebuah peringatan bagi institusi Gerejani bukan fakta terberi dalam praxis institusional. Praxis institusional Keuskupan Amboina menunjukkan bahwa seluruh pejabat Keuskupan, imam dan awam, bekerja secara tak kenal lelah berdasarkan iman dan cinta yang mendalam kepada Tuhan. Mereka bahkan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, materi, meninggalkan tugas dan keluarga semata-mata demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan umat Allah.

Faktor penghambat lain, kata Habermas, adalah “halangan politis yang disebabkan oleh para politisi yang hendak mencari dukungan untuk mendapatkan kekuasaan politik praktis.” Hal ini bisa dilaksanakan melalui pengerahan dan mobilisasi massa, khususnya kelompok tertentu yang memiliki agenda tertentu. Halangan ini juga bisa terjadi karena para politisi memanipulasi situasi atas nama ajaran dan praktek atau tradisi partikular tertentu untuk mendapatkan dukungan politik pribadi dan kelompok.

Pada tataran ini saya terbatas untuk melihat kemungkinan munculnya “halangan politis” tersebut. Saya tetap berada pada keyakinan kedalaman mengenai orisinalitas dan fundamentalitas sensus fidei umat beriman Katolik Keuskupan Amboina. Secara khusus dapat dikatakan bahwa para politisi Katolik Keuskupan Amboina memiliki komitmen iman yang tak tergoyahkan untuk berpartisipasi secara aktif, bahkan sampai melupakan dirinya sendiri dan keluarga, demi Kerajaan Allah dan kebaikan seluruh umat di Keuskupan Amboina.

Revitalisasi Misi dan Pelayanan Gereja: Sebuah Refleksi

Kerangka teoretis yang dikemukakan oleh Habermas di atas, oleh sebagian kalangan, dipandangan sangat normatif dan hanya cocok untuk kalangan akademisi. Kritik ini tidak salah. Joshua Cohen, seorang komentator Habermas, mengungkapkan bahwa pemikiran Habermas bahkan tidak menyediakan sarana strategis untuk melaksanakan program-program konkrit partisipasi warga dalam ruang publik (Joshua Cohen, 2009: 253-255).

Akan tetapi sekurang-kurangnya, menurut saya, kerangka pemikiran Habermas memberikan kepada kita sebuah pelajaran penting mengenai kemungkinan untuk merevisi setiap tahap Sinode, mulai dari pemilihan prosedur awal hingga hasil akhir, dalam bentuk komitmen individual untuk berpartisipasi secara komunikatif untuk melaksanakan hasil-hasil Sinode. Lebih dari itu, sebagaimana diungkapkan Melissa Schwartzberg: “Habermas embraces the possibility of interpreting and adapting rights for current circumstance… in the long run as a self-correcting learning process” (Melissa Schwartzberg, 2007:23)

Dimensi proses belajar untuk mengoreksi diri ini menjadi sangat penting sebagai bentuk pernyataan kerendahan hati dan keterbukaan untuk mendengarkan pihak lain sebagai putra-putri Allah dalam Keuskupan Amboina. Nilai ini diungkapkan juga dalam Instrumentum Laboris: “Sinode Keuskupan ini … menjadi wadah dan kesempatan dimana para Imam dan umat beriman dibawah bimbingan Gembala Utama Uskup Diosis, akan mengevaluasi diri dan pelayanan reksa pastoral, serta menyusun langkah-langkah strategis demi perwujudan Gereja yang mandiri di Provinsi Maluku dan Maluku Utara” (Instrumentum Laboris, 2019:7).

Pertanyaan yang muncul ialah bagaimana kita bergerak ke arah revitalisasi Gereja Keuskupan Amboina berdasarkan hasil-hasil Sinode ketiga nanti? Apakah dasar yang tepat sebagai fondasi normatif untuk merevitalisasi misi dan karya Gereja Keuskupan Amboina pasca-Sinode? Saya memikirkan dua gagasan bagi revitalisasi Gereja kita.

Pertama, dasar Pneumatis. Langkah awal revitalisasi harus dimulai oleh Gereja Keuskupan Amboina dengan kembali kepada dasar keberadaannya sendiri, yakni Roh Kudus. Gereja pada hakikatnya adalah karya Roh Kudus. Ia adalah dasar terdalam keberadaan dan nadi hidup Gereja universal. Kehilangan pusat nadi ini sama dengan mengkhianati Roh Kudus. Oleh karena itu, Sinode ini harus dipenuhi dengan doa dan ekaristi serta Sabda Allah. Melalui sumber dan puncak hidup Gereja ini, Sinode ketiga akan menjadi sungguh-sungguh pertemuan persaudaraan dan momen refleksi diri yang efektif bagi revitalisasi Gereja (umat Allah). Dalam konteks inilah sebuah Sinode menyatakan dirinya secara radikal berbeda dengan sebuah rapat parlementer.

Kedua, dasar Komunikatif-partisipatoris. Kekurangan teori Habermas ialah penkanannya pada proses deliberasi tanpa sebuah intervensi praksis pada partisipasi warga. Sidang Sinode ini telah menyatakan kritik terhadap teori Habermas dengan mengikutsertakan begitu banyak pihak (umat dan masyarakat) selama Focus-Group Discussion. Kini hal itu harus dilanjutkan dalam implementasi hasil Sinode.

Dasar komunikatif-partisipator ini adalah misi dan tindakan Allah sendiri melalui Yesus Kristus, Putera-Nya, di dalam dunia. Misi ini menjadi jiwa teologi Asia yang dirumuskan oleh Konferensi Uskup-Uskup Asia, dan secara khusus dikumandangkan oleh Mgr. P.C. Mandagi, MSC, Uskup Diosis Amboina. Uskup secara tegas mengatakan bahwa dialog atau komunikasi merupakan “salah satu nilai kemanusiaan.” Dalam konteks Maluku, Uskup mengungkapkan bahwa tujuan dialog tak lain adalah untuk membangun rekonsiliasi dan solidaritas. Adalah tanggung jawab etis-moral semua pihak untuk membuka ruang dialog yang jujur untuk membangun Maluku secara damai dan adil (Komisi Kateketik KWI, 2000: 57-58).

Dengan dasar paradigma komunikasi-partisipasi ini Gereja Keuskupan Amboina tidak hadir dari dan bagi dirinya sendiri, melainkan senantiasa mengatasi logika politik kekuasaan, menuju implementasi keutamaan inkarnatoris-partisipatoris Allah dalam dunia.

Penutup

            Sidang Sinode Keuskupan Amboina yang ketiga adalah sebuah tindakan komunikatif Gereja Katolik untuk semakin relevan, aktual, dan signifikan dalam misi dan perutusan Kabar Gembira Allah bagi dunia. Tindakan komunikatif itu lahir dari kesadaran bahwa Gereja adalah sakramen yang menyalurkan kasih dan rahmat Allah bagi seluruh umat manusia. Untuk itu Gereja harus kembali ke dasar pneumatis dan misi inkarnasi-partisipasi Allah dalam dunia. Dengan cara ini, Sinode ketiga ini dapat menyalurkan air kehidupan yang didambakan oleh putra-putri Allah di Keuskupan Amboina

Sumber Rujukan

  1. Habermas, Jürgen. Between Naturalism and Religion. Translated by Ciaran Cronin. Cambridge: Polity, 2008.
  2. Habermas, Jürgen. Between Facts and Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy. Translated by William Regh. Cambridge, Massachusetts: The MIT Press, 1996.
  3. Habermas, Jürgen. The Theory of Communicative Action, Vol. 2, Lifeworld and System: A Critique of Functionalist Reason. Translated by Thomas McCarthy. Boston: Beacon Press, 1987.
  4. Dreyer, Jaco S., and Hennie J.C. Pieterse. “Religion in the Public Sphere: What Can Public Theology Learn from Habermas’s Latest Work?” Theological Studies 66, no. 1 (2010): 1-7.
  5. Schwartzberg, Melissa. Democracy and Legal Change. Cambridge: Cambridge University Press, 2007.
  6. Cohen, Joshua. “Reflection on Democracy.” In Contemporary Debates in Political Philosophy. Edited by Thomas Christiano and John Christman. Malden, MA: Willey-Blackwell, 2009: 247-263.
  7. Komisi Kateketik KWI. Mgr. P.C. Mandagi, MSC: Mediator dalam Kerusuhan Maluku. Editor Daniel B. Kotan. Jakarta: Dokpen KWI, 2000.

Untuk Kita Renungkan

Posted in Leonardus on Januari 30, 2012 by Leonardus Ansis
RD. Leonardus Ansis Bas

ماثيو 7:1-4 “لا تدينوا لئلا يكون الحكم لك.
لفي الطريقة التي سيحكم ، أن يحكم عليك والمقياس الذي يستخدم لقياس ، وسوف يقاس لك.
لماذا تنظرون إلى بقعة في عين أخيك ، في حين أن شعاع التي هي في ذين؟
كيف يمكنك أن تقول لأخيك : دعني إزالة بقعة من العين الخاصة بك ، عندما يكون هناك شعاع في العين الخاصة بك.
Lukas 6:37-42  “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?
Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.
Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

%d blogger menyukai ini: